Langsung ke konten utama

Sebuah Pertemuan



2 tahun lalu, sebuah acara mempertemukan antara aku dan kalian,
2 tahun lalu, hanya tegur sapa lalu keakraban itu datang entah dari mana.
2 tahun lalu, hanya beberapa jam kita bertemu, tapi bukankah Allah telah menyatukan hati-hati kita?
Maka hari itu, ku temukan ukhuwah itu.
2 tahun, berpisah. Aku hilang kontak denganmu, dan mungkin juga kau.
Maka hanya harap-harap itu yang dapat kurajut dalam rabithah yang selalu kupinta padaNya, kurasa begitu juga dengan kau, kalian.
Maka, bukankah ukhuwah islamiyyah itu begitu indah?
Hari itu....pertemuan itu kembali. Untuk yang kedua kalinya. Selama dua tahun.
“ Bukankah kita pernah bertemu? Sungguh, kita pernah bertemu,” wajahmu tentu tak asing lagi. ya, kita pernah bertemu, tapi dimana…
Bukankah kita saling mengingat, saling menatap wajah.
“ Masjid al ikhlas, cipete! Dua tahun lalu!”
Subhanallah….maka kembali mengalir ceritamu, ceritaku. Bertanya kabar iman, kabar kegiatan dakwahku, dakwahmu, tarbiyahku, tarbiyahmu,menanyakan kabar teman-teman yang dulu juga sempat membersamai.
Duhaiii…ukhuwah islamiyyah…. Selalu indah untuk diceritakan, terlalu manis untuk dilupakan. Ukhuwah islamiyyah sesaat berpisah, membuat jejak masing-masing di tanah masing-masing, lalu Allah pertemukan kita kembali dengan caraNya yang indah. Ukhuwah Islamiyyah…kalaupun tak bertemu di dunia, semoga tertakdir pertemuan di Syurga….


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Itu Aku Menemukannya

Ya Allah, hari itu aku menemukannya, sosok yang kata-katanya membuatku terbuai, jiwa yang santunnya membuatku tersentuh, dan pesona yang hatinya membuatku enggan untuk tidak memercayainya. Syukurku selalu pada-Mu ya Allah, sebab Kau telah memberiku kesempatan dan kepercayaan atas titipan cinta-Mu yang kian aliri diriku untuk terus dan terus tanpa henti dan tak lelah menanti hanya dengan membawa satu makna bahwa aku adalah seorang yang sangat memedulikannya. Kuharap Engkau selalu membimbingku ya Allah, agar suatu saat ketika semua ini harus kutinggalkan, sebentuk kata akan mengiriku, menemaniku, dan meyakinkan jiwaku bahwa aku telah membuatnya berarti. Aku tahu bahwa pada suatu saat nanti aku harus pergi. Juga kutahu bahwa aku harus meninggalkannya, namun Ya Rabb wahai Zat yang Mahakuasa…. Tidakkah Engkau melihat…? Tidakkah Engkau mendengar…? Bahwa tak pernah kulewatkan satu saat pun dalam segala shalat dan tahajudku untuk tidak meminta yang terbaik untuknya kepada-Mu?...

Surat Untuk Quthz #2

Qutz, Aku menyusuri kembali jalan-jalan di mana kita pernah menyejajari langkah kita sambil kau tak henti merapal kisah dan peristiwa. Di salah satu toko buku kau pernah memaksaku membeli Api Sejarah. Kupikir, untuk apa lagi aku membelinya jika setiap halaman dalam buku tersebut bisa kudengar darimu secara detil. Tapi kau tau, diam-diam aku membelinya. Benar, ada perasaan yang tidak kau temukan dibandingkan berkomunikasi langsung dengan sang penulis melalui tulisannya. Kupikir, itu hanya karena style belajarku dan belajarmu saja yg cukup sama. Orang lain bisa jadi tak sama dengan kita.  Hampir setahun. Toko buku di persimpangan sudah ada beberapa yg tutup.  Banyak yg hilang dari kita, Quthz. Bukan hanya tentang menghabiskan waktu di HB Jassin, Masjid Amir Hamzah, atau menghentikan angkutan umum dari Atrium, menyusuri Kramat Raya menuju perpustakaan Dewan Dakwah.  Yang hilang dari kita, menyegerakan amal atas ilmu yang sudah diketahui. Rasa-rasanya, aku rindu petang mu...

Memori Emas

Suatu saat nanti, aku tau kalian akan menjelma sosok yang tidak lagi bersamaku. Sekedar mendengar bacaan qur'an mu yang semakin lancar, hafalan qur'an mu atau seperti yang kamu katakan "kak, hari ini saya muroja'ah saja" Ekspresi mu yang sesekali tersenyum malu-malu setiap ku tanya "sudah solat ashar? Tadi sholat zuhur? Subuh?" Ah kakak kenapa setiap hari menanyakan itu. Dulu, saat awal-awal. Tapi semakin kesini, justru kalian yang mengingatkan jika aku sengaja atau tanpa se ngaja tidak bertanya "ka, engga ditanya udah sholat atau belum nih?" Boleh aku mengartikan itu sebuah kerinduan? Jika satu saat nanti dan aku tau kita tak bersama lagi, mungkin aku akan merindukan saat petang lalu kita menatap senja lama-lama di atas danau sambil melantunkan zikir pagi dan petang yang belum separuhnya kalian hafal. Juga tentang tanya-tanya ingin tahu kalian, "ka, di akhirat nanti apa kita bisa ngaji bareng-bareng lagi?Ngaji bareng di pin...