Langsung ke konten utama

Al Quds Berkata: "Jika Kalian Kembali Kepada Allah..."

Datang kepadaku seorang pemuda dari Palestina. Ia duduk diatas tanah.
Aku berkata: “Duduklah diatas permadani...”
Ia menjawab: “Bagaimana aku bisa duduk diatas permadani, sementara Al-Quds tetawan ditangan manusia-manusia ‘kera’ dan ‘babi’.”
Aku berkata: “Adakah berita dari Al-Quds?”
Ia menjawab: “Aku membawa pertanyaan yang memerlukan jawaban.”
Aku berkata: “Pertanyaan apa itu?”
Ia menjawab: “Al-Quds memanggil dimana para pahlawannya? Dimana cucu Khalid, Saad dan Bilal? Wahai mereka yang telah hafal surat Al-Anfal, dimana para pahlawan perangmu?”
Aku berkata: “Mereka telah lama mati. Negeri-negeri telah lama kehilangan mereka. Mereka lalu digantikan orang-orang yang lemah semangat, tipis perhatian dan mimpi yang tak berbobot.”
Ia mengatakan: “ Kami juga menanyakan, kemana para pengusung Risalah? Dimana orang-orang pemberani? Dima orang-orang yang tak mau dihina karena mengerti harga dirinya? Mengapa anak cucu berbeda dengan ayah dan kakeknya?”

Aku berkata: “orang-orang yang tak rela dihina itu, rumahnya di masjid-masjid. Diantara orang-orang yang ruku dan sujud. Yang khusyu dan orang-orang ahli ibadah. Yang berpuasa dan berjihad. Sedangkan anak cucu mereka memiliki rumah dikafe-kafe. Di anata penyanyi dan pembuang waktu. Yang banga dengan uang. Yang terjerumus dalam kekosongan. Kecuali mereka yang dirahmati Tuhan.”
Lalu aku bertanya terburu-buru kepada pemuda itu: “Kirimkan salam kami untuk Al-Quds...Katakan padanya, kami menjadi tebusanmu wahai Al-Quds, dengan jiwa. Kapan engkau kembali kepada kami. Salam dari kami...”
Ia menjawab: (Al-Quds mengatakan:) “Jika kalian kembali kepada Allah, aku akan kembali kepada kalian. Tetapi jika kalian menjauh dari Allah, aku menjauh dari kalian.”
Aku berkata: “Kenapa umar bisa membebaskanmu?”
Ia menjawab: (Al-Quds mengatakan: ) “Karena dia pemegang sunnah, jujur dalam bicara, penegak keadilan dalam peri hidupnya.”
Aku berkata: “Lalu kenapa engkau bisa direbut kembali oleh Shalahuddin?”
Ia menjawab: (Al-Quds mengataka: ) “Karena dialah pahlawan perang Hithin. Dan dia dilindungi oleh Rabbul Alamin. Lalu dialah seorang abid dan golongan mujahidin.”
Aku berkata: “Wahai Al-Quds, mungkinkah kita bisa bertemu?”
Ia menjawab: (Al-Quds mengataka:) “Jika kalian taati Tuhan pemilik bumi dan langit. Kalian ikhlas dalam do’a. Kalian berlatih berjihad pagi dan sore. Dan kalian taubat dari seluruh kemaksiatan dan kekejian.”
Aku berkata: “Bagaiman kondisimu sekarang?”
Ia menjawab: (Al-Quds mengatakan:) “ Dalam derita dan kesedihan, dalam kegelisahan dan pilu. Terpenjara oleh jeruji para tirani. Karena ditinggalkan ahlul iman (orang-orang beriman), dan penghafal Al-Quran. Tidakah engkau lihat pipiku tercoreng lambang bintang segi enam. Keningku diinjak oleh negara Iblis. Di mana anak cucu Mush’ab bin Umair? Yang bisa menyelamatkan aku dari anak Golda Maer. Di mana orang-orang seperti Umar bin Abdul Aziz? Yang mampu membebaskan ku dari belengu Perez? Di mana para hamba-hamba agama ini? Yang bisa mengusir injakan kaki di keningku? Di mana murid-murid Abdullah bin Mas’ud? Yang dapat mengusir anak-anak ‘kera’? yang bisa mematahkan belenggu dari kakku? Akulah Al-Quds yang tertawan. Dahulu akulah cintanya Rasul saw. Dahulu aku ada dekat dalam dinding hati setiap Mukmin. Tapi sekarang aku tertimpa bala dan musibah. Aku mengalami keadaan yang sangat aneh.”
Telah berbilang tahun Palestina memanggil mereka. Namun sedikit dari mereka yang berkata: “Labbaik. Kami datang untuk membebaskanmu.” Kita, telah cukup lelah dengan mencintaiorang yang hanya berharap memuji dan mengaku-ngaku. Sementara Palestina tetap berteriak pagi dan sore.
Andai Umar bin Khattab mendengar teriakan seorang anak Palestina, yang kehilangan ayahnya dan saudaranya yang ditahan. Niscaya ia akan kerahkan bala tentaranya. Andai telinga Al Mu’tashim mendengar teriakan “Dimana umatku...” Niscaya baginya langit menjadi sempit dan bumi serasa berhimpit. Niscaya ia sendiri yang akan memimpin pasukannya.
Palestina bernasab Islam. Bukan hanya Arab. Itulah sebabnya Shalahuddin Al Ayyubi, pembebas Al-Quds, asal Qurdi. Sultan Abdul Hamid penolong Palestina, asal Turki. Sementara ada sebagian orang Arab di hari-hari perang Salib justru menjual Palestina di pasar-pasar.
Wahai Muslim Palestina. Anehkah jika kalian mampu mengalahkan Zionis, pesawat-pesawatnya, tank-tanknya, misil-misilnya? Kapankah kita pernah mengalahkan pasukan karena jimlah dan kekuatan senjata? Mereka selalu berjumlah lebih banyak dan lebih canggih persenjataannya. Demi Allah. Lihatlah Badar, lihatlah Al-Ahzab, lihatlah Yarmuk, lihatlah Al-Qadisiyah, lihatlah Hithin, lihatlah Ain Jalut. Dengan iman kita, keyakinan diri kita, kekuatan kita berpegang dengan agama. Kita telah kalahkan mereka. Maka, perangilah mereka dengan tongkat kalian, dengan batu kalian, dengan langit kalian, dengan bumi kalian, dengan para lelaki kalian, dengan kaum wanita kalian, dengan anak-anak kalian. Kita pasti akan mengang dengan izin Allah. Masa depan milik kalian. Esok yang bercahaya bersama kalian. Jika kalian bersabar dan bertaqwa.
Demi Allah, lihatlah, apakah bangsa-bangsa terjajah itu terbebas karena pertolongan bangsa lain? Bahkan bangsa-bangsa non Islam pun berperang sendiri melawan penjajahnya sampai merdeka. India tidak merdeka karena bantuan negara tetangganya atau dengan meminta-minta dengan berderai tangis ke organisasi dunia. Vietnam kalahkan Amerika dengan memberi pelajaran besar bagi AS yang terusir hina. Jepang juga demikian. Kamboja, tidak berbeda.
Lalu, lihatlah bangsa-bangsa Muslim. Apakah Aljazair merdeka dari Perancis karena bantuan negara Arab atau karena perjuangan bangsanya sendiri? Mereka memang telah persembahkan jutaan pejuang untuk merdeka. Lihatlah Afghanistan yang telah mengusir Rusia. Mereka jadikan bumi jajahan bak neraka jahim untuk penjajah. Mereka buat langit Afghanistan menjadi panas bagi penjajah. Terakhir, lihatlah Indonesia. Apakah bangsa Muslim terbesar itu merdeka dari jajahan Belanda karena bantuan negara lain, atau pahlawan-pahlawan sendiri?

Dikutip Dari: DR. Abdullah bin Aidh Al Qarni. 2008, Berteduhlah Ditaman Hati, Jakarta: Tarbawi Press

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Be a Writer(Impian,Pengorbanan,Penolakan, dan Akhirnya Berbuah Indah)

Assalamu'alaikum wr.wb... Pernah merasakan dan pernah berfikir tidak, hidup kok sepertinya gini-gini aja ya. Tidak ada yang bisa bikin kita bangga, tidak ada yang bisa bikin kita teriak "ini lho gue!!" Berapa tahun hidup di dunia, apa sih yang bisa kita berikan untuk ortu kita,saudara,teman, dan orang-orang sekitar kita. Aku rasa kalian pernah memikirkan hal ini. Itulah yang juga aku rasakan dulu...saat menjelang akhir-akhir ujian SMP dan sampai saat ini. Terlahir dari keluarga buku telah membuat ku begitu mencintai aktivitas membaca. Tiada hari tanpa membaca.Buku ibarat makanan wajib bagiku. Aku ingat betul bagaimana saat membaca buku,laparku jadi hilang, aku jadi malas mandi,aku tidak mau diganggu oleh apapun. Ahh..pokoknya membaca itu aktivitas yang memang sudah  mendarah daging sekali dalam hidupku.Pernah temanku marah karena merasa dicuekin saat aku membaca buku.yaa..dia lagi curhat dan aku malah baca.dengan teganya dia merampas buku yangg sedang kubaca. Karen...

Alur Hidup Kita

Aku sering menginsyafi betapa alur kehidupan yang Allah skenariokan untuk kita begitu menakjubkan. Kadang ia menaruh kita pada latar taman dihiasi bunga-bunga nan berseri. Di lain waktu ia melempar kita pada tempat-tempat penuh kerikil berduri yang tentu saja menyakitkan. Lalu melempar kita ke tempat lain lagi yang membuat kita pada akhirnya bertanya-tanya apa gerangan yang Dia rahasiakan untuk kita. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita menuju pada persepsi-persepsi yang keliru tentang takdirNya tentu ditambah dengan keadaan yang membuat kita tak nyaman. Namun, sejauh kita melangkah, Dia tentu sangat baik. Memberikan jawaban lewat berbagai caraNya. Hanya kadang hati kita yang terlalu berdebu tak menyadari bahwa sebenanya Dia tengah mengusap lembut hati kita agar sedikit demi sedikit debu itu hilang, digaantikan dengan cahayaNya. Bagi saya,

Dalam Kenangan

Apa kabar,kawan? Maafku baru bisa mengingatmu kembali. mengingat,bahwa ternyata kau telah pergi dalam kehidupan kami. aku bahkan lupa bahwa kau telah pergi sejak 2 tahun lalu, usai kau dinyatakan lulus SMP. Ah,aku ingat betul sehari sebelum kepergianmu,memandangmu lama. tak ada tanda2 kau hendak pergi meninggalkan semua. hanya saja,kau lebih pendiam hari itu. tak seperti biasa dimana kelas ramai oleh candamu. Kau tau,kawan?