Langsung ke konten utama

Tentang Kepenulisan #2 : Ciri Penulis Kreatif

kalo ini dari Pak Dwi Suwiknyo pengasuh pesantren penulis.

~ciri penulis kreatif : 1. banyak mendengar, banyak bertanya, banyak diskusi dengan orang-orang 'lintas ilmu'.

~ciri penulis kreatif : 2. jadikan setiap orang sebagai guru, setiap tempat adalah kelas untuk belajar, dan setiap waktu adalah jam belajar.

~ciri penulis kreatif : 3. suka mencatat ide-ide dalam buku: ba...nk ide, pena dan buku saku adalah teman terdekat untuk menjaring ilmu.

~ciri penulis kreatif : 4. mampu menguasai (mood) diri, tau cara untuk menstimulus diri, dan bisa segera menulis dalam berbagai kondisi.

~ciri penulis kreatif : 5. suka membaca tulisan sendiri, sehingga bisa banyak belajar dari kesalahan dalam menulis, dan mendapat ide baru.

~Ini ciri-ciri penulis kreatif : 6. suka riset, suka cari data-data terbaru;

 7. gemar menulis dengan cepat, biar salah nggak apa-apa, ntar bisa diedit; 

8. suka menghubung-hubungkan berbagai ilmu dalam satu tulisan, jadi tulisannya lebih berwarna, tidak monoton, dan lebih 'hidup';

 9. bisa merasakan tulisannya, jad...i tertawa sendiri saat menulis humor, terharu, marah, dan takut juga saat menulis kisah tentang tema-tema 'sensitif'; 

10. pikirannya terbuka bila ada yang mengkritik atau memberi saran supaya tulisannya lebih bagus, mau lekas revisi naskah kalo penerbit memintanya

Ini ciri-ciri penulis kreatif: 11. suka mengumpulkan dokumen/berita penting, rajin buat kliping;

 12. rajin menganalisis sesuatu, bisa menghasilkan sebuah 'kesimpulan'; 

13. sudah punya jadwal menulis, rutin menulis setiap hari; 

14. punya 'gaya bahasa' sendiri, meski awalnya niru gaya penulis lain; 

15. rajin mengoreksi tulisan lama, menemukan ide baru dari tulisan lama;~Ini ciri-ciri (sikap, mental) penulis kreatif: 

16. suka sekali bertanya, "apa, siapa, mengapa, dimana, kapan, dan bagaimana?" 

17. selesai menuliskan satu ide secara utuh, kembali bertanya, "lalu apa lagi?" 

18. saat baca tulisan sendiri, berkata, "data apa lagi yang saya butuhkan?" 

19. bertanya lagi, "apakah 'pesanku' tersampaikan melalui tulisan ini?"

 20. berpikir, dan merenung, "ilmu apa lagi yang perlu aku kuasai?"Ini ciri-ciri (sikap, mental) penulis kreatif: 

21. menulis lebih detail, membekali diri dengan banyak informasi; 

22. mampu hasilkan tulisan yang berbeda-beda, meski yang dibahas sama;

 23. cinta sejarah, suka mencatat kejadian-kejadian penting dalam hidupnya; 

24. punya daftar ide, skala prioritas dalam menggarap ide;

 25. langsung menulis, ketimbang kebanyakan melamun, he..Ini ciri-ciri (sikap, mental) penulis kreatif: 

26. rajin mengotak-atik ide lama sehingga bisa jadi ide baru;

 27. selesai satu naskah, lanjut garap dua naskah, he; 

28. suka diskusi, dan rajin mencatat hasil diskusi; 

29. ilmunya jadi amal, dan amalnya jadi tulisan; 

30. sregep ikut bedah buku, berani bertanya, dapat hadiah dech, he;

kamu termasuk?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Itu Aku Menemukannya

Ya Allah, hari itu aku menemukannya, sosok yang kata-katanya membuatku terbuai, jiwa yang santunnya membuatku tersentuh, dan pesona yang hatinya membuatku enggan untuk tidak memercayainya. Syukurku selalu pada-Mu ya Allah, sebab Kau telah memberiku kesempatan dan kepercayaan atas titipan cinta-Mu yang kian aliri diriku untuk terus dan terus tanpa henti dan tak lelah menanti hanya dengan membawa satu makna bahwa aku adalah seorang yang sangat memedulikannya. Kuharap Engkau selalu membimbingku ya Allah, agar suatu saat ketika semua ini harus kutinggalkan, sebentuk kata akan mengiriku, menemaniku, dan meyakinkan jiwaku bahwa aku telah membuatnya berarti. Aku tahu bahwa pada suatu saat nanti aku harus pergi. Juga kutahu bahwa aku harus meninggalkannya, namun Ya Rabb wahai Zat yang Mahakuasa…. Tidakkah Engkau melihat…? Tidakkah Engkau mendengar…? Bahwa tak pernah kulewatkan satu saat pun dalam segala shalat dan tahajudku untuk tidak meminta yang terbaik untuknya kepada-Mu?...

Surat Untuk Quthz #2

Qutz, Aku menyusuri kembali jalan-jalan di mana kita pernah menyejajari langkah kita sambil kau tak henti merapal kisah dan peristiwa. Di salah satu toko buku kau pernah memaksaku membeli Api Sejarah. Kupikir, untuk apa lagi aku membelinya jika setiap halaman dalam buku tersebut bisa kudengar darimu secara detil. Tapi kau tau, diam-diam aku membelinya. Benar, ada perasaan yang tidak kau temukan dibandingkan berkomunikasi langsung dengan sang penulis melalui tulisannya. Kupikir, itu hanya karena style belajarku dan belajarmu saja yg cukup sama. Orang lain bisa jadi tak sama dengan kita.  Hampir setahun. Toko buku di persimpangan sudah ada beberapa yg tutup.  Banyak yg hilang dari kita, Quthz. Bukan hanya tentang menghabiskan waktu di HB Jassin, Masjid Amir Hamzah, atau menghentikan angkutan umum dari Atrium, menyusuri Kramat Raya menuju perpustakaan Dewan Dakwah.  Yang hilang dari kita, menyegerakan amal atas ilmu yang sudah diketahui. Rasa-rasanya, aku rindu petang mu...

Memori Emas

Suatu saat nanti, aku tau kalian akan menjelma sosok yang tidak lagi bersamaku. Sekedar mendengar bacaan qur'an mu yang semakin lancar, hafalan qur'an mu atau seperti yang kamu katakan "kak, hari ini saya muroja'ah saja" Ekspresi mu yang sesekali tersenyum malu-malu setiap ku tanya "sudah solat ashar? Tadi sholat zuhur? Subuh?" Ah kakak kenapa setiap hari menanyakan itu. Dulu, saat awal-awal. Tapi semakin kesini, justru kalian yang mengingatkan jika aku sengaja atau tanpa se ngaja tidak bertanya "ka, engga ditanya udah sholat atau belum nih?" Boleh aku mengartikan itu sebuah kerinduan? Jika satu saat nanti dan aku tau kita tak bersama lagi, mungkin aku akan merindukan saat petang lalu kita menatap senja lama-lama di atas danau sambil melantunkan zikir pagi dan petang yang belum separuhnya kalian hafal. Juga tentang tanya-tanya ingin tahu kalian, "ka, di akhirat nanti apa kita bisa ngaji bareng-bareng lagi?Ngaji bareng di pin...