Langsung ke konten utama

Tentang Kepenulisan #1

Pagiiiiiiii..........Hari ini cerah, bukan?
Mari kita awali hari ini dengan bismillah dan semoga hal-hal baik membersamai kalian selalu.

Setelah saya pikir-pikir, sepertinya blog saya ini kesannya diarish banget deh. nah...mulai saat ini, saya mau juga dong sharing2 ilmu tentag kepenulisan. semoga saja, ilmu yang sedikit ini bisa bermanfaat ya.

Buat kalian yang seneng nulis, biasanya seneng juga nih dateng ke seminar-seminar/pelatihan-pelatihan menulis. selain karena ingin bertemu dengan pembicara-pembicaranya yang pastinya seorang penulis, juga pengen tau lebih banyak tentang dunia kepenulisan. Ini ada beberapa hal yang saya dapatkan ketika mengikuti seminar kepenulisan bersama bunda Asma Nadia dan Boim Lebon.


1. Nulis mentok?
atau semacam writing block gitu. Ketika saya mengisi acara bedah buku "PBC:MATH VS SASTRA (DAR MIZAN, 2011) pertanyaan ini sering diajukan oleh teman-teman peserta. Ketika ditanya, kamu sudah mulai menulis? jawabannya belum, Naah..daripada gitu, mending nulis aja dulu.

2. Kalo di jalan, atau dimanapun kalian nemuin orang lagi ngobrol nih, curi-curi dengar aja pembicaraan mereka. Biasanya pembicaraan mereka lebih realistis.

3. Opening yang menarik?
 Ga usah berbelit-belit, nanti udah 13 halaman eh bingung ini ceritanya mau gimana. gak melulu tentang pendeskripsian, langsung dialogpun boleh. misal yaa...misal: " aku harus pergi..." ia berucap dengan nada lirih. matanya memandang Albatross yang lewat di langit senja sana. sore, Itu kali ketiganya dia berkata demikian, tentu setelah aku yang selalu memulainya dengan pertanyaan yang sama seperti hari-hari sebelumnya: " kau yakin akan pergi?" ahh...tentu tak mudah melepasnya pergi begitu saja............................... -----
kira-kira begitu, nanti paragraf selanjutnya diceritakan tentang siapa dia, apa hubungan mereka berdua, dan asal muasal tokoh dia harus pergi dan kenapa tokoh aku berat melepasnya.

4. Sering-sering latihan nulis, nulis apaaaaaa ajaaaa.....ada sesuatu yang menarik? ya tulis. ga ada sesuatu yang menarik? ya tulis juga. ada sesuatu yang dianggap penting untuk ditulis? ya tulis. ada sesuatu yang menurutmu gak penting? ya tulis aja. intinya si kalo kata ka Fikri Habibullah (Penulis Tuhan Izinkan Aku Pacaran) kalau mau jadi penulis yaa cuma tiga: Menulis, Menulis, Menulis!

5. Penulis yang baik itu, pembaca yang baik. Jangan ragu sering-sering baca tulisan orang lain. Terus, kalo lagi baca, deket-deket ama KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) biar kosakata kamu nambah.

6. Kalo sedang nulis tiba-tiba mentok tulisan, ambil aja satu atau beberapa kata, nanti tinggal dilanjutkan.

7. Kalo ditolak penerbit, jangan langsung down! kadang tulisan kita hanya perlu direvisi. coba tanya editor mana yang perlu diperbaiki asalkan jangan marah kalo tulisan kita dikritisi. editor itu kan pembaca pertama tulisan kita, mereka kritis-kritis dan kadang pedes juga kata-katanya. haha...maklum, namanya juga editor.

8. Kalo kirim naskah ke penerbit, jangan hasil prinannya, fotocopy dulu, baru kirim hasil fotocopy-annya. Jadi nanti kalo ditolak  bisa difotocopy kembali. biar biayanya murah gitu.

9. sambil nunggu naskah kita diproses(biasanya sebulan-3 bulan) nulis lagi yang banyak! serahkan semua keputusan ke Allah.

10. Untuk penulis pemula kaya saya, jangan takut ngirim ke penerbit "gak pede, takutnya ditolak" kan belum coba...kalopun ditolak atau bahkan ditolak berkali-kali insya Allah akan jadi pembelajaran buat kita di setiap penolakan itu. jadi lebih sabar, jadi tau kesalahan penulisan kita dimana, jadi tau banyak deh. ketika saya awal-awal mulai berani ngirim tulisan ke majalah pun sering banget ditolak, tapi saya si bodo-amat. yang penting ayeeeee tetap cintaaaaa menulisssssssssss!!!

Demikian...Semoga bermanfaat! #YukNulis!

@Dede_Eltriana



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Itu Aku Menemukannya

Ya Allah, hari itu aku menemukannya, sosok yang kata-katanya membuatku terbuai, jiwa yang santunnya membuatku tersentuh, dan pesona yang hatinya membuatku enggan untuk tidak memercayainya. Syukurku selalu pada-Mu ya Allah, sebab Kau telah memberiku kesempatan dan kepercayaan atas titipan cinta-Mu yang kian aliri diriku untuk terus dan terus tanpa henti dan tak lelah menanti hanya dengan membawa satu makna bahwa aku adalah seorang yang sangat memedulikannya. Kuharap Engkau selalu membimbingku ya Allah, agar suatu saat ketika semua ini harus kutinggalkan, sebentuk kata akan mengiriku, menemaniku, dan meyakinkan jiwaku bahwa aku telah membuatnya berarti. Aku tahu bahwa pada suatu saat nanti aku harus pergi. Juga kutahu bahwa aku harus meninggalkannya, namun Ya Rabb wahai Zat yang Mahakuasa…. Tidakkah Engkau melihat…? Tidakkah Engkau mendengar…? Bahwa tak pernah kulewatkan satu saat pun dalam segala shalat dan tahajudku untuk tidak meminta yang terbaik untuknya kepada-Mu?...

Surat Untuk Quthz #2

Qutz, Aku menyusuri kembali jalan-jalan di mana kita pernah menyejajari langkah kita sambil kau tak henti merapal kisah dan peristiwa. Di salah satu toko buku kau pernah memaksaku membeli Api Sejarah. Kupikir, untuk apa lagi aku membelinya jika setiap halaman dalam buku tersebut bisa kudengar darimu secara detil. Tapi kau tau, diam-diam aku membelinya. Benar, ada perasaan yang tidak kau temukan dibandingkan berkomunikasi langsung dengan sang penulis melalui tulisannya. Kupikir, itu hanya karena style belajarku dan belajarmu saja yg cukup sama. Orang lain bisa jadi tak sama dengan kita.  Hampir setahun. Toko buku di persimpangan sudah ada beberapa yg tutup.  Banyak yg hilang dari kita, Quthz. Bukan hanya tentang menghabiskan waktu di HB Jassin, Masjid Amir Hamzah, atau menghentikan angkutan umum dari Atrium, menyusuri Kramat Raya menuju perpustakaan Dewan Dakwah.  Yang hilang dari kita, menyegerakan amal atas ilmu yang sudah diketahui. Rasa-rasanya, aku rindu petang mu...

Memori Emas

Suatu saat nanti, aku tau kalian akan menjelma sosok yang tidak lagi bersamaku. Sekedar mendengar bacaan qur'an mu yang semakin lancar, hafalan qur'an mu atau seperti yang kamu katakan "kak, hari ini saya muroja'ah saja" Ekspresi mu yang sesekali tersenyum malu-malu setiap ku tanya "sudah solat ashar? Tadi sholat zuhur? Subuh?" Ah kakak kenapa setiap hari menanyakan itu. Dulu, saat awal-awal. Tapi semakin kesini, justru kalian yang mengingatkan jika aku sengaja atau tanpa se ngaja tidak bertanya "ka, engga ditanya udah sholat atau belum nih?" Boleh aku mengartikan itu sebuah kerinduan? Jika satu saat nanti dan aku tau kita tak bersama lagi, mungkin aku akan merindukan saat petang lalu kita menatap senja lama-lama di atas danau sambil melantunkan zikir pagi dan petang yang belum separuhnya kalian hafal. Juga tentang tanya-tanya ingin tahu kalian, "ka, di akhirat nanti apa kita bisa ngaji bareng-bareng lagi?Ngaji bareng di pin...