Langsung ke konten utama

Sehimpun Inspirasi dari Dauroh Indonesia Murojaah

Bismillahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimmusshalihat.
Pada bagian 1 ini saya akan menuliskan hal-hal terkait murajaah yang disampaikan KH. Deden M. Makhyaruddin pada Dauroh Indonesia Murajaah yang diselenggarakan pada 29 Desember 2017- 4 Januari 2018 lalu di Pondok Pesantren Al Mustaqimiyyah.
Kita mulai dengan sebuah kutipan yang disampaikan oleh Ustad Deden, “Setiap orang bisa menghafal Qur’an, bahkan orang munafik pun bisa. Tapi hanya orang-orang beriman yang mampu memurajaahnya.”
Mendengarnya seperti ditembak dari berbagai sisi. Setelah saya renungi, benar juga, menghafal Qur’an itu hanya pekerjaan sekali yang kurun waktunya bisa pendek, bisa juga panjang. Ada orang yang 3 bulan, bisa menghafal 30 Juz Al Qur’an, ada yang 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, bahkan mungkin lebih. Tetapi murojaah adalah pekerjaan seumur hidup yang tidak bisa hanya beberapa bulan atau setahun dua tahun dilakukan, tetapi seumur hidup! Sampai Allah mengatakan, “wahai hamba-Ku, sudah cukup. Sekarang saatnya engkau kembali kepada-Ku. Bersahabatkan ayat-ayat yang kau murajaah setiap harinya, di pagi, siang, dan malammu.” Oleh sebab, murojaah pekerjaan seumur hidup yang tidak boleh dilewatkan, maka membutuhkan keistiqomahan dan istiqomah adalah cirinya orang-orang beriman. Orang munafiq tidak bisa istiqomah. Jadi, menjaga hafalan Qur’an itu tidak ada kaitannya dengan kecerdasan otak, tetapi berkaitan dengan keimanan dan ketika kita sedang menjaga hafalan Qur’an itu artinya kita sedang menjaga keimanan kita. 
Semoga Allah menghindari kita dari hanya bersemangat menambah hafalan tetapi tidak punya waktu atau hanya sedikit waktu untuk murajaah karena hafalan tanpa murajaah itu omong kosong. Target kita adalah bukan bisa menghafal 3 juz dalam sebulan, tetapi bagaimana setiap harinya kita punya durasi bersama Al Qur’an. Target kita bukanlah sehari bisa menghafal 4 halaman Al Qur’an, tetapi bagaimana kita bisa menambah hafalan meski sedikit dengan tetap menjaga hafalan yang sebelumnya sudah kita hafal.
Eh, btw nih, murajaah itu apa sih? Murajaah itu pengulangan atau mengulang kembali apa yang sudah kita pelajari atau apa yang sudah kita hafal sebelum masa ingatnya berakhir. Biasanya hafalan baru akan lupa paling cepat 2 jam. Jadi, kalau kita menghafal jam 7 maka wajib murajaah  di jam 9. Hafal surat Al Fatihah, kan? Coba kenapa bisa hafal dengan sangat mutqin? Kalau saya nih ketika ditanya hafalan yang paling sangat mutqin itu hafalan saya yang mana? Saya akan jawab: Surat Al Fatihah. Iya, soalnya sering dimurojaah seminimalnya sehari 17 kali. Itu kalau cuma solat wajib, kalau ditambah solat rawatib, dhuha, tahajud, sholat taubat, coba hitung sendiri berapa kali di murajaah. Jadi, kalau ingin membuat hafalan Qur’an mu semutqin hafalan surat Al Fatihahmu, murajaahlah sebagaimana kamu memurajaah surat Al Fatihah :
Oh ya, saya sampaikan juga beberapa Q&A pada saat kajian tafsir-tafsir murajaah.
Q: Ustad, bagaimana jika kita sudah menghafal Al Qur’an tetapi kita lupa. Apakah berdosa?
A: Tidak. Lupa ayat itu tidak berdosa. Yang berdosa adalah tidak murojaah. Kalau udah murajaah tapi ada beberapa ayat yang kita tetap lupa, ini tidak berdosa.
Q: Ustad, saya sulit murojaah karena banyaknya aktivitas di kampus dan berbagai kesibukan.
A: Ah, ini lebih bagus. Saya dulu menghafal Qur’an kayaknya lagi banyak masalah. Murojaah dulu, luangkan. Insyaa Allah nanti aktivitas-aktivitas lainnya akan diluangkan oleh Allah.
Q: Bagaimana jika ada penghafal Qur’an yang telah melakukan dosa besar semacam zina, lalu dia merasa malu dengan hafalan Qur’an nya dan akhirnya dia berhenti dari menghafal dan murojaah?
A: Orang yang banyak dosa itu, taubatnya dengan murojaah. Saya punya teman seorang penghafal Qur’an. Dia hafal Qur’an dari umur 9 tahun. Waktu mudanya dia agak-agak begitu, pergaulannya agak-agak, sering saya tegur karena beda aliran sama saya dalam pergaulannya. Murojaahnya bagus. Setiap hari tidak pernah absen murojaah sesuai targetnya selama-lamanya dia punya hafalan. Setiap hari 5 juz dia murojaah. Maka saya katakan dalam hati saya, “seandainya murojaahnya benar, maka murojaahnya ini akan menghentikan perbuatan maksiatnya”. Dan benar saja, tak berapa lama dia menikah dan saya mendapatinya sebagai seseorang yang shalih betul. Maasya Allah. Jadi intinya begini, kalau murojaahnya bagus, pasti murojaah akan menghentikan perbuatan maksiatnya dan sebaliknya, kalau hafalan dan murojaahnya tidak bagus, pasti maksiat akan menghentikan murojaahnya. Mana aja yang paling kuat. Murojaahnya kuat aka menghentikan maksiatnya, kalau maksiatnya kuat akan menghentikan murojaahnya
Q: Ustad apakah ada hubungan antara menghafal Al Qur’an dengan jihad fii sabilillah?
A: Oh ada. Biasanya orang yang hafalannya kuat itu paling semangat jihadnya. Paling depan. Dalam sejarah peperangan Islam di masa Rasulullah dan sahabat, shaf-shaf pertama perang itu para penghafal Qur’an sampai Umar Bin Khattab itu khawatir  setelah pertempuran Yamamah karena yang paling banyak syahid itu para penghafal Qur’an. Itu membuktikan, lepaslah nyawa lebih ringan daripada harus lepasnya Al Qur’an dari dalam dadanya. Lebih berharga Al Qur’an daripada nyawanya. Hilang nyawa lebih baik daripada hilang hafalannya. Sehingga, kalau penghafal Qur’an tidak merasa tercambuk hatinya, terganggu hafalannya ketika melihat kemunkaran atau melihat ketidakadilan merajalela, maka itu aneh hafalan Qur’annya. Bisu.

Yap, sekian dulu hal-hal tentang murojaah yang saya dapatkan dari dauroh tersebut. Insya Allah akan ada tulisan bagian kedua. Semoga Allah mampukan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Itu Aku Menemukannya

Ya Allah, hari itu aku menemukannya, sosok yang kata-katanya membuatku terbuai, jiwa yang santunnya membuatku tersentuh, dan pesona yang hatinya membuatku enggan untuk tidak memercayainya. Syukurku selalu pada-Mu ya Allah, sebab Kau telah memberiku kesempatan dan kepercayaan atas titipan cinta-Mu yang kian aliri diriku untuk terus dan terus tanpa henti dan tak lelah menanti hanya dengan membawa satu makna bahwa aku adalah seorang yang sangat memedulikannya. Kuharap Engkau selalu membimbingku ya Allah, agar suatu saat ketika semua ini harus kutinggalkan, sebentuk kata akan mengiriku, menemaniku, dan meyakinkan jiwaku bahwa aku telah membuatnya berarti. Aku tahu bahwa pada suatu saat nanti aku harus pergi. Juga kutahu bahwa aku harus meninggalkannya, namun Ya Rabb wahai Zat yang Mahakuasa…. Tidakkah Engkau melihat…? Tidakkah Engkau mendengar…? Bahwa tak pernah kulewatkan satu saat pun dalam segala shalat dan tahajudku untuk tidak meminta yang terbaik untuknya kepada-Mu?...

Surat Untuk Quthz #2

Qutz, Aku menyusuri kembali jalan-jalan di mana kita pernah menyejajari langkah kita sambil kau tak henti merapal kisah dan peristiwa. Di salah satu toko buku kau pernah memaksaku membeli Api Sejarah. Kupikir, untuk apa lagi aku membelinya jika setiap halaman dalam buku tersebut bisa kudengar darimu secara detil. Tapi kau tau, diam-diam aku membelinya. Benar, ada perasaan yang tidak kau temukan dibandingkan berkomunikasi langsung dengan sang penulis melalui tulisannya. Kupikir, itu hanya karena style belajarku dan belajarmu saja yg cukup sama. Orang lain bisa jadi tak sama dengan kita.  Hampir setahun. Toko buku di persimpangan sudah ada beberapa yg tutup.  Banyak yg hilang dari kita, Quthz. Bukan hanya tentang menghabiskan waktu di HB Jassin, Masjid Amir Hamzah, atau menghentikan angkutan umum dari Atrium, menyusuri Kramat Raya menuju perpustakaan Dewan Dakwah.  Yang hilang dari kita, menyegerakan amal atas ilmu yang sudah diketahui. Rasa-rasanya, aku rindu petang mu...

Memori Emas

Suatu saat nanti, aku tau kalian akan menjelma sosok yang tidak lagi bersamaku. Sekedar mendengar bacaan qur'an mu yang semakin lancar, hafalan qur'an mu atau seperti yang kamu katakan "kak, hari ini saya muroja'ah saja" Ekspresi mu yang sesekali tersenyum malu-malu setiap ku tanya "sudah solat ashar? Tadi sholat zuhur? Subuh?" Ah kakak kenapa setiap hari menanyakan itu. Dulu, saat awal-awal. Tapi semakin kesini, justru kalian yang mengingatkan jika aku sengaja atau tanpa se ngaja tidak bertanya "ka, engga ditanya udah sholat atau belum nih?" Boleh aku mengartikan itu sebuah kerinduan? Jika satu saat nanti dan aku tau kita tak bersama lagi, mungkin aku akan merindukan saat petang lalu kita menatap senja lama-lama di atas danau sambil melantunkan zikir pagi dan petang yang belum separuhnya kalian hafal. Juga tentang tanya-tanya ingin tahu kalian, "ka, di akhirat nanti apa kita bisa ngaji bareng-bareng lagi?Ngaji bareng di pin...