Langsung ke konten utama

Buncit dan Sok Alim

“Apa ini?” Kata Umar sambil menepuk perut seorang buncit. Puk puk puk...
“Ini karunia dari Allah?” Jawab si buncit dengan PD-nya.
“Ini justru azab dari Allah!" Sergah Umar.

Umar berseru, “Wahai manusia! Hindari perut yang besar karena membuat kalian malas melaksanakan shalat, merusak organ tubuh, menimbulkan banyak penyakit. Makanlah kalian secukupnya agar kalian semangat melaksanakan shalat, terhindar dari sifat boros dan lebih giat beribadah kepada Allah.”

Pada kesempatan yang lain Umar keheranan setengah anyel. “Kenapa orang itu berjalan seperti itu?” tanya Umar ketika melihat seseorang yang berpenampilan lusuh dan klemar-klemer. “Tak pantas seorang mukmin berjalan lambat dan berpenampilan kumuh.” Sikap umar yang blak-blakan memang tidak biasa membiarkan sesuatu yang dirasanya salah berlalu begitu saja darinya. “Hei,” tegur Umar, “engkau merusak Agama Islam dengan penampilanmu itu. Tegaklah saat berjalan dan tampakkan kemuliaan Islam!”

Umar melanjutkan, “keliru orang yang menganggap zuhud sebagai kelemahan dan ahli ibadah tampak lemas dan lunglai. Jika ia bicara, suaranya tak terdengar. Dan jika berjalan, ia membungkukkan badannya. Jika ia berdiri shalat, kepalanya lebih rendah dari pundaknya. Tidakkah mereka khawatir tergolong orang riya’, berlebihan dan sok alim?”

Muslim semestinya sedap dipandang dan tampak bersemangat. Cekatan, yang jika ia berjalan seakan dirinya sedang menuruni bukit. Bukan klemar-klemer dan ngantukan agar tertuduh sebagai ahli tahajud yang menghabiskan malam dengan sedikit tidur. Benarlah kalimat para bijak, ojo ingah-ingih, jewiwak-jewiwik, ibas-ibis neng pojokan; artinya, jangan menunjukkan kelemahan di hadapan khalayak

Sumber: fikihsirah.review 

Kata Kunci: Perut Besar, Sok Alim, Zaman Umar Bin Khattab, Siroh, Fikih Siroh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Be a Writer(Impian,Pengorbanan,Penolakan, dan Akhirnya Berbuah Indah)

Assalamu'alaikum wr.wb... Pernah merasakan dan pernah berfikir tidak, hidup kok sepertinya gini-gini aja ya. Tidak ada yang bisa bikin kita bangga, tidak ada yang bisa bikin kita teriak "ini lho gue!!" Berapa tahun hidup di dunia, apa sih yang bisa kita berikan untuk ortu kita,saudara,teman, dan orang-orang sekitar kita. Aku rasa kalian pernah memikirkan hal ini. Itulah yang juga aku rasakan dulu...saat menjelang akhir-akhir ujian SMP dan sampai saat ini. Terlahir dari keluarga buku telah membuat ku begitu mencintai aktivitas membaca. Tiada hari tanpa membaca.Buku ibarat makanan wajib bagiku. Aku ingat betul bagaimana saat membaca buku,laparku jadi hilang, aku jadi malas mandi,aku tidak mau diganggu oleh apapun. Ahh..pokoknya membaca itu aktivitas yang memang sudah  mendarah daging sekali dalam hidupku.Pernah temanku marah karena merasa dicuekin saat aku membaca buku.yaa..dia lagi curhat dan aku malah baca.dengan teganya dia merampas buku yangg sedang kubaca. Karen...

Alur Hidup Kita

Aku sering menginsyafi betapa alur kehidupan yang Allah skenariokan untuk kita begitu menakjubkan. Kadang ia menaruh kita pada latar taman dihiasi bunga-bunga nan berseri. Di lain waktu ia melempar kita pada tempat-tempat penuh kerikil berduri yang tentu saja menyakitkan. Lalu melempar kita ke tempat lain lagi yang membuat kita pada akhirnya bertanya-tanya apa gerangan yang Dia rahasiakan untuk kita. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita menuju pada persepsi-persepsi yang keliru tentang takdirNya tentu ditambah dengan keadaan yang membuat kita tak nyaman. Namun, sejauh kita melangkah, Dia tentu sangat baik. Memberikan jawaban lewat berbagai caraNya. Hanya kadang hati kita yang terlalu berdebu tak menyadari bahwa sebenanya Dia tengah mengusap lembut hati kita agar sedikit demi sedikit debu itu hilang, digaantikan dengan cahayaNya. Bagi saya,

Sajak Palsu (Agus R, Sarjono)

Selamat pagi Pak, selamat pagi Bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.   Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.   Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.   Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.   Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang meng...