Langsung ke konten utama

Surat Untuk Quthz #2

Qutz, Aku menyusuri kembali jalan-jalan di mana kita pernah menyejajari langkah kita sambil kau tak henti merapal kisah dan peristiwa. Di salah satu toko buku kau pernah memaksaku membeli Api Sejarah. Kupikir, untuk apa lagi aku membelinya jika setiap halaman dalam buku tersebut bisa kudengar darimu secara detil. Tapi kau tau, diam-diam aku membelinya. Benar, ada perasaan yang tidak kau temukan dibandingkan berkomunikasi langsung dengan sang penulis melalui tulisannya. Kupikir, itu hanya karena style belajarku dan belajarmu saja yg cukup sama. Orang lain bisa jadi tak sama dengan kita. 
Hampir setahun. Toko buku di persimpangan sudah ada beberapa yg tutup. 
Banyak yg hilang dari kita, Quthz. Bukan hanya tentang menghabiskan waktu di HB Jassin, Masjid Amir Hamzah, atau menghentikan angkutan umum dari Atrium, menyusuri Kramat Raya menuju perpustakaan Dewan Dakwah. 
Yang hilang dari kita, menyegerakan amal atas ilmu yang sudah diketahui. Rasa-rasanya, aku rindu petang muhasabah kita, ttg apa-apa yg mesti kita istighfari hari ini dan bersegera...bersegera memperbaiki. Atas ketakutanmu juga, di hari segala perbuatan dibalas. "Nanti, apa jawabanku?" Katamu, "ketika Rabbku memanggilku di hadapan seluruh makhluk: Wahai Hambaku..." Aku menjawab, "Wahai, Rabbku..." Dan Allah mengatakan, "Apakah engkau mengerjakan apa yg sudah kau ketahui?" 
Banyak hal baik yang telah hilang dari kita, Quthz. Kita yg dulu masih sangat sedikit ilmu tapi mengamalkan apa yg sudah kita ketahui. 
Qutz, mungkin, kita mesti berhenti sejenak. Atas lompatan kita yg barangkali terlampau jauh melesat. Tapi justru menghilangkan hal-hal baik yang dulu pernah kita kerjakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Be a Writer(Impian,Pengorbanan,Penolakan, dan Akhirnya Berbuah Indah)

Assalamu'alaikum wr.wb... Pernah merasakan dan pernah berfikir tidak, hidup kok sepertinya gini-gini aja ya. Tidak ada yang bisa bikin kita bangga, tidak ada yang bisa bikin kita teriak "ini lho gue!!" Berapa tahun hidup di dunia, apa sih yang bisa kita berikan untuk ortu kita,saudara,teman, dan orang-orang sekitar kita. Aku rasa kalian pernah memikirkan hal ini. Itulah yang juga aku rasakan dulu...saat menjelang akhir-akhir ujian SMP dan sampai saat ini. Terlahir dari keluarga buku telah membuat ku begitu mencintai aktivitas membaca. Tiada hari tanpa membaca.Buku ibarat makanan wajib bagiku. Aku ingat betul bagaimana saat membaca buku,laparku jadi hilang, aku jadi malas mandi,aku tidak mau diganggu oleh apapun. Ahh..pokoknya membaca itu aktivitas yang memang sudah  mendarah daging sekali dalam hidupku.Pernah temanku marah karena merasa dicuekin saat aku membaca buku.yaa..dia lagi curhat dan aku malah baca.dengan teganya dia merampas buku yangg sedang kubaca. Karen...

Alur Hidup Kita

Aku sering menginsyafi betapa alur kehidupan yang Allah skenariokan untuk kita begitu menakjubkan. Kadang ia menaruh kita pada latar taman dihiasi bunga-bunga nan berseri. Di lain waktu ia melempar kita pada tempat-tempat penuh kerikil berduri yang tentu saja menyakitkan. Lalu melempar kita ke tempat lain lagi yang membuat kita pada akhirnya bertanya-tanya apa gerangan yang Dia rahasiakan untuk kita. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita menuju pada persepsi-persepsi yang keliru tentang takdirNya tentu ditambah dengan keadaan yang membuat kita tak nyaman. Namun, sejauh kita melangkah, Dia tentu sangat baik. Memberikan jawaban lewat berbagai caraNya. Hanya kadang hati kita yang terlalu berdebu tak menyadari bahwa sebenanya Dia tengah mengusap lembut hati kita agar sedikit demi sedikit debu itu hilang, digaantikan dengan cahayaNya. Bagi saya,

Sajak Palsu (Agus R, Sarjono)

Selamat pagi Pak, selamat pagi Bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.   Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.   Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.   Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.   Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang meng...