Langsung ke konten utama

Surat Cinta untuk Ibunda Para Syuhada



Ibunda, surat ini ku sampaikan padamu, atas kesyahidan anak-anakmu pagi tadi, siang tadi, sore tadi, malam tadi, atau saat kau membaca pembuka suratku ini, atau bahkan ketika kau membaca pertengahan suratku dan kabar kesyahidan anakmu datang sedang kau segera bangkit, bukan untuk memaki, bukan untuk menyerang bangsa batu itu dan menyuruhnya pergi dari tempat dimana kau melahirkan anak-anakmu, dari tempat dimana kau tanamkan pada mujahid kecilmu bahwa kemenangan itu adalah kepastian bagi orang-orang yang sungguh-sungguh percaya padaNya, dari tempat dimana kau melihat sosok yang lain dalam diri anak-anakmu saat mereka sudah mulai memegang batu. Kau bangkit untuk mengucapkan selamat, selamat atas gelar kesyahidan yang telah anakmu capai. Tentu...tentu meski dengan mata yang berkaca lalu perlahan kaca itu pecah menjadi beningan kristal yang mengalir dan kau pun berkata dengan yakin “jangan percaya pada air mata kesedihan anakku, air mata ini...adalah sungguh air mata yang sama pada saat kau pecah tangismu pertama kali di dunia” dan kau kecup anakmu dengan kecupan yang sama saat pertama kali kau mengecupnya dalam gendonganmu dahulu.
Ibunda, Sesungguhnya surat ini kutulis padamu saat gerimis mengawali pagi ini, dengan secangkir susu dan sepotong roti yang disiapkan ibu untukku. Sedang aku tau kau mengawali dini harimu mungkin dengan suara-suara desingan roket, sapaan wajah-wajah najis yang tak tahu malu menginjak rumahmu dengan sepatu larsnya yang bernajis, menodongkan kau dengan senjata mereka yang juga najis. Kanak-kanak berlindung dibalikmu sambil berteriak, “ummi, apakah mereka akan menangkap kita sebagamana mereka menangkap ayah? Apakah mereka akan membunuh kita sebagaimana mereka membunuh Ummu Ayyub? Ummi, mengapa mereka semakin jahat saja?” dan jawabmu “Allahu ma’ana, anakku. Bukankah semakin gelap berarti semakin dekati fajar? Kuatkan kesiapsiagaanmu, kuatkan kesabaranmu.”  Sedang anakmu yang lain menghadang ‘kera’ yang kelaparan itu dengan dadanya. Matanya menyorot tajam, sorotan yang seringkali membuat bangsa ‘kera’ yang kelaparan itu lari pontang-panting. Tapi tidak, bangsa ‘kera’ kelaparan itu memang terlalu pengecut. Untuk membunuh seorang anak kecil saja  ia terlalu takut. Mengerahkan beruntutan peluru. Anakmu syahid, bunda...dipangkuanmu. Ditangannya tergengganm batu yang sepulang sekolah tadi ia pungut di jalan dan dikumpulkan di dalam tas nya. Tapi lihatlah, bunda...bukankah ia memang adalah seorang anak kecil yang sedang tidur dengan senyumnya meski berlumuran darah. Senyum itu, bunda...bukankah kau yang lebih tau? Senyum itu , bunda...mungkin senyum atas sambutan para bidadari kepada anakmu. Meski begitu, air mata nampaknya memang tak bisa berbohong, Bunda. “tetes air mata ini, Nak...sungguh terlalu mahal untuk dikeluarkan hanya untuk meratapi kesedihan. Sungguh air mata ini harus dibayar dengan darah mereka yang haus darah. Negeri ini tak akan pernah kehabisan pejuang. Justru akan semakin tumbuh dan membalas perbuatan mereka dengan lebih menyakitkan...sebab di tubuh mereka lahir darah pejuang yang tak rela diinjak-injak. Sebab tanah ini adalah tanah pejuang, yang kan lahirkan mujahid-mujahid yang tak takut tegakkan kebenaran”
Bunda, saat surat ini sampai padamu, mungkin entah sudah berapa anak-anakmu menjadi syuhada. Mungkin satu(ah, tapi rasanya tak mungkin jika hanya satu), lima, sepuluh, lima puluh, seratus, seribu, sepuluh ribu atau mungkin lebih. Kau tentu lebih tau, Bun. Saat surat ini sampai padamu, mungkin diluar sana anakmu dengan gagah berani mengahadang tank-tank bangsa “kera” kelaparan itu dan menimpukinya dengan kerikil-kerikil batu yang melayang, tepat sasaran, terpecah, dan kembali jatuh ke bumi, untuk meyakinkan bahwa anakmu bisa menggunakannya kapan saja ia mau sebab batu-batu itu tak akan pernah habis. Tapi aku tertawa heran mengapa kecilnya batu bisa membuat gerombolan ‘kera kelaparan’ itu ketakutan. Katamu disampaikan angin: sebab kekuatannya itu...bukan terletak pada batu-batu, tapi pada kokohnya keyakinan si pelempar. Sebab batu-batu itu, bukan mereka saja yang melempar, tapi ada ribuan malaikat yang juga turun tangan”
Bunda, surat ini mungkin akan segera melayang hilang, atau menemui satu per satu para ibunda, hanya ingin menyampaikan pada ibunda bahwa kami belajar banyak dari seribu drama tragedi yang ibunda lewati, bahwa keyakinan padaNya adalah pondasi.
Bunda, kuakhiri surat ini pada satu petang yang masih menyisakan gerimis sore tadi, sedang layar televisi masih saja menyisakan sejuta dusta, sejuta keegoan negeri kami. Tentang pesta pernikahan yang mengundang takjub, tentang para muda yang berjalan pongah di sebuah mall, tentang bau busuk kata-kata penguasa, tentang Udin yang mati kelaparan siang tadi disamping sebuah restoran termewah, tentang Toto yang terlanjur mati di emperan rumah rumah sakit tersebab tak diizinkan masuk karena ayahnya hanya miliki uang dua ribuan bekas kembalian obat warung, tentang sarjana-sarjana pengangguran yang menunggu antrean pekerjaan, tentang janji-janji penguasa yang tenggelam di lumpur.
Tapi, Bunda...di negeri kami masih banyak yang peduli meski tak seorangpun tau, tapi masih banyak di negeri kami mujahid-mujahid tanah air yang begitu tulus dan kokoh. Bunda, Maafkan kami yang hanya bisa merutuki tanpa memberi arti, maafkan kami yang terlalu ego pada diri, maafkan kami yang menjadikan anak-anakmu sebagai tebusan.
Surat ini kutulis untukmu, Bunda...seraya berdoa agar miliki kesejatian cinta ibunda para syuhada.


Tangerang Selatan, Subuh biru

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Be a Writer(Impian,Pengorbanan,Penolakan, dan Akhirnya Berbuah Indah)

Assalamu'alaikum wr.wb... Pernah merasakan dan pernah berfikir tidak, hidup kok sepertinya gini-gini aja ya. Tidak ada yang bisa bikin kita bangga, tidak ada yang bisa bikin kita teriak "ini lho gue!!" Berapa tahun hidup di dunia, apa sih yang bisa kita berikan untuk ortu kita,saudara,teman, dan orang-orang sekitar kita. Aku rasa kalian pernah memikirkan hal ini. Itulah yang juga aku rasakan dulu...saat menjelang akhir-akhir ujian SMP dan sampai saat ini. Terlahir dari keluarga buku telah membuat ku begitu mencintai aktivitas membaca. Tiada hari tanpa membaca.Buku ibarat makanan wajib bagiku. Aku ingat betul bagaimana saat membaca buku,laparku jadi hilang, aku jadi malas mandi,aku tidak mau diganggu oleh apapun. Ahh..pokoknya membaca itu aktivitas yang memang sudah  mendarah daging sekali dalam hidupku.Pernah temanku marah karena merasa dicuekin saat aku membaca buku.yaa..dia lagi curhat dan aku malah baca.dengan teganya dia merampas buku yangg sedang kubaca. Karen...

Alur Hidup Kita

Aku sering menginsyafi betapa alur kehidupan yang Allah skenariokan untuk kita begitu menakjubkan. Kadang ia menaruh kita pada latar taman dihiasi bunga-bunga nan berseri. Di lain waktu ia melempar kita pada tempat-tempat penuh kerikil berduri yang tentu saja menyakitkan. Lalu melempar kita ke tempat lain lagi yang membuat kita pada akhirnya bertanya-tanya apa gerangan yang Dia rahasiakan untuk kita. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita menuju pada persepsi-persepsi yang keliru tentang takdirNya tentu ditambah dengan keadaan yang membuat kita tak nyaman. Namun, sejauh kita melangkah, Dia tentu sangat baik. Memberikan jawaban lewat berbagai caraNya. Hanya kadang hati kita yang terlalu berdebu tak menyadari bahwa sebenanya Dia tengah mengusap lembut hati kita agar sedikit demi sedikit debu itu hilang, digaantikan dengan cahayaNya. Bagi saya,

Sajak Palsu (Agus R, Sarjono)

Selamat pagi Pak, selamat pagi Bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.   Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.   Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.   Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.   Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang meng...