Langsung ke konten utama

Muhasabah Petang Lalu

”Barangsiapa yang belum pernah menemui kesulitan dalam proses pembelajaran ketika itu akan datang kepadanya suatu yang cepat berupa kesulitan dan kebodohan sepanjang hidupnya.”
Cambuk bagi kita perkataan ulama Mesir diatas. Sebuah cambuk yang seharusnya menjadi renungan untuk para penuntut ilmu.
Sebuah cambuk yang seharusnya menjadi pelecut semangat para penuntut ilmu, bahwa kesulitan apapun yang ditemui dalam mencari ilmu, tidak akan membuat para pembelajar sejati berhenti menggali ilmu Allah kecuali dia mau terus terkukung oleh kebodohannya, kecuali dia mau terus menjadi budak kebodohan.
Kalau kita tengok sejarah peradaban, para penuntut ilmu tak lepas dari kesusahan dalam mencari ilmu. Tetapi mereka sadar betul bahwa kesusahan itu akan terbayar dengan menisnya ilmu yang mereka cari, karena mereka sadar betul kesusahan dalam mencari ilmu tidak ada apa-apanya dibandingkan repotnya barada dalam kebodohan.
Mari kita simak kisah sepanjang sejarah, bagaimana perjuangan seorang murid dalam menuntut ilmu.
Beliau menuntut ilmu di pondok bertahun-tahun lamanya. Beliau hidup di pondok dengan mengabdikan dirinya kepada guru. Beliau tidak sekolah formal seperti anak-anak zaman sekarang. Beliau hanya ingin mengambil tiga kunci kesuksesan dari berbagai kunci yang ada; Doanya guru, Ridhonya guru, Ikhlasnya guru.
Hari-harinay dihabiskan untuk mencari ilmu dan membaktikan diri kepada guru. Sampai akhirnya sang guru jatuh sakit dan dia disuruh kembali ke kampung halaman untuk menransfer ilmunya.
Kita mengenalnya Hasyim Asyari. Pejuang ilmu yang tidak pernah kuliah di Harvard University atau perguruan ternama lainnya tapi berhasil mendirikan organisasi yang sangat berpengaruh di Indonesia. Mungkin dia belajar di Universitas kehidupan. Kehidupanlah yang mengajarinya berjiwa besar, kehidupan yang membuatnya menjadi manusia beradab. Coba tanyakan, katanya sekolah itu membuat yang tidak tahu menjadi tahu, mengubah orang jahat menjadi baik, tapi sekarang? Mengapa banyak sekali penjahat yang lulusan sekolah? Lulusan perguruan tinggi? Mengapa semakin tinggi mereka sekolah, mereka semakin jahat? Meski tidak semua seperti itu.
Mungkin karena ilmu tidak dibarengi dengan iman, jadilah ilmu yang didapat digunakan ke arah yang tidak benar. Itulah bila ilmu tidak masuk ke dalam hati. Seorang ustad ketika saya SMA pernah menyampaikan, “Ilmu adalah cahaya dan tidak akan masuk ke dalam hati yang kotor”
Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. Berhenti mencari ilmu jika memang kau tak butuh dengan ilmu. Pertanyaannya, dapatkah kau hidup tanpa ilmu?
So, Tetap semangat!
Luruskan Niat!
Tentukan target!
Jangan menyerah!

“Karena manisnya ilmu adalah ketika mencari, bukan menerima begitu saja”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Itu Aku Menemukannya

Ya Allah, hari itu aku menemukannya, sosok yang kata-katanya membuatku terbuai, jiwa yang santunnya membuatku tersentuh, dan pesona yang hatinya membuatku enggan untuk tidak memercayainya. Syukurku selalu pada-Mu ya Allah, sebab Kau telah memberiku kesempatan dan kepercayaan atas titipan cinta-Mu yang kian aliri diriku untuk terus dan terus tanpa henti dan tak lelah menanti hanya dengan membawa satu makna bahwa aku adalah seorang yang sangat memedulikannya. Kuharap Engkau selalu membimbingku ya Allah, agar suatu saat ketika semua ini harus kutinggalkan, sebentuk kata akan mengiriku, menemaniku, dan meyakinkan jiwaku bahwa aku telah membuatnya berarti. Aku tahu bahwa pada suatu saat nanti aku harus pergi. Juga kutahu bahwa aku harus meninggalkannya, namun Ya Rabb wahai Zat yang Mahakuasa…. Tidakkah Engkau melihat…? Tidakkah Engkau mendengar…? Bahwa tak pernah kulewatkan satu saat pun dalam segala shalat dan tahajudku untuk tidak meminta yang terbaik untuknya kepada-Mu?...

Surat Untuk Quthz #2

Qutz, Aku menyusuri kembali jalan-jalan di mana kita pernah menyejajari langkah kita sambil kau tak henti merapal kisah dan peristiwa. Di salah satu toko buku kau pernah memaksaku membeli Api Sejarah. Kupikir, untuk apa lagi aku membelinya jika setiap halaman dalam buku tersebut bisa kudengar darimu secara detil. Tapi kau tau, diam-diam aku membelinya. Benar, ada perasaan yang tidak kau temukan dibandingkan berkomunikasi langsung dengan sang penulis melalui tulisannya. Kupikir, itu hanya karena style belajarku dan belajarmu saja yg cukup sama. Orang lain bisa jadi tak sama dengan kita.  Hampir setahun. Toko buku di persimpangan sudah ada beberapa yg tutup.  Banyak yg hilang dari kita, Quthz. Bukan hanya tentang menghabiskan waktu di HB Jassin, Masjid Amir Hamzah, atau menghentikan angkutan umum dari Atrium, menyusuri Kramat Raya menuju perpustakaan Dewan Dakwah.  Yang hilang dari kita, menyegerakan amal atas ilmu yang sudah diketahui. Rasa-rasanya, aku rindu petang mu...

Memori Emas

Suatu saat nanti, aku tau kalian akan menjelma sosok yang tidak lagi bersamaku. Sekedar mendengar bacaan qur'an mu yang semakin lancar, hafalan qur'an mu atau seperti yang kamu katakan "kak, hari ini saya muroja'ah saja" Ekspresi mu yang sesekali tersenyum malu-malu setiap ku tanya "sudah solat ashar? Tadi sholat zuhur? Subuh?" Ah kakak kenapa setiap hari menanyakan itu. Dulu, saat awal-awal. Tapi semakin kesini, justru kalian yang mengingatkan jika aku sengaja atau tanpa se ngaja tidak bertanya "ka, engga ditanya udah sholat atau belum nih?" Boleh aku mengartikan itu sebuah kerinduan? Jika satu saat nanti dan aku tau kita tak bersama lagi, mungkin aku akan merindukan saat petang lalu kita menatap senja lama-lama di atas danau sambil melantunkan zikir pagi dan petang yang belum separuhnya kalian hafal. Juga tentang tanya-tanya ingin tahu kalian, "ka, di akhirat nanti apa kita bisa ngaji bareng-bareng lagi?Ngaji bareng di pin...