Langsung ke konten utama

Dan Berlabuhlah disini

 Dari FB nya ka Semesta Kecil..

Saat ini, mungkin kita punya tujuan yang sama. Ketika di waktu yang sama kita melihat langit yang sama, di tempat yang berbeda, di jam yang berbeda, di musim yang berbeda, pernah kau pahami? bahwa apa yang kita fikirkan terkadang adalah sesuatu yang sama? meski jarak kita amat jauh. Namun pernahkah kau sadari? suatu saat nanti, ketika TUHAN menghapus satu per satu jarak yang membentang di hadapan kita, barangkali, DIA akan menghapus juga semua yang sama dari pikiran kita semula. Mungkin saat itu tujuan kita berbeda. Ketika kita bisa menatap ke langit yang sama, di jam yang sama dan di tanah yang sama, ada yang berbeda, dan itu adalah pikiran kita.

Jika.. hm,jika.. ada tembok besar menjulang di hadapanmu nanti.. percayalah.. itu bukan berarti kau diminta-NYA untuk kembali pulang dan merebahkan anganmu di peraduan hanya karena kau menganggap bahwa IA tak megizinkan.

Tapi.. DIA ingin memberi kesempatan untukmu memusnahkan tembok besar itu, dengan skuat tenagamu, dengan setangguh jiwamu, dengan sekeras tekadmu, segigih usahamu. hingga pada akhirnya kau melihat apa yang terdapat di sebalik tembok besar itu. kau akan tahu.

Jika...
apa yang dulu pernah kita rangkai dalam kalimat do'a menjadi sbuah harapan sederhana yang tulus, dan kini.. berubah jadi abu yang terbuang.
jika......
TUHAN menuliskan namaku pada daftar perjalananmu hanya sampai di jalan yang ini saja..
Jika......
aku terlampau jauh untuk bisa melangkah sejajar dengan langkah kakimu..
dan, jika..
Ia tak mengizinkan kita berlayar dalam sisi yang sama...
aku ingin .. kita berlabuh di pantai yang sama..
aku.. ingin kau mengingatku sebagai satu dayung yang siap membantumu untuk smpai di sebuah danau.


Jika... tujuan kita benar-benar sudah berbeda, boleh kan aku bertanya, "kemana Perahumu akan berlabuh?"
hanya untuk memastikan, bahwa kau tak akan tersesat.
Dan berlabuhlah disini...ketika semua rasa bukan hanya menjadi fitrah,
namun juga suci-terjaga, seperti awal datangnya...



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Be a Writer(Impian,Pengorbanan,Penolakan, dan Akhirnya Berbuah Indah)

Assalamu'alaikum wr.wb... Pernah merasakan dan pernah berfikir tidak, hidup kok sepertinya gini-gini aja ya. Tidak ada yang bisa bikin kita bangga, tidak ada yang bisa bikin kita teriak "ini lho gue!!" Berapa tahun hidup di dunia, apa sih yang bisa kita berikan untuk ortu kita,saudara,teman, dan orang-orang sekitar kita. Aku rasa kalian pernah memikirkan hal ini. Itulah yang juga aku rasakan dulu...saat menjelang akhir-akhir ujian SMP dan sampai saat ini. Terlahir dari keluarga buku telah membuat ku begitu mencintai aktivitas membaca. Tiada hari tanpa membaca.Buku ibarat makanan wajib bagiku. Aku ingat betul bagaimana saat membaca buku,laparku jadi hilang, aku jadi malas mandi,aku tidak mau diganggu oleh apapun. Ahh..pokoknya membaca itu aktivitas yang memang sudah  mendarah daging sekali dalam hidupku.Pernah temanku marah karena merasa dicuekin saat aku membaca buku.yaa..dia lagi curhat dan aku malah baca.dengan teganya dia merampas buku yangg sedang kubaca. Karen...

Alur Hidup Kita

Aku sering menginsyafi betapa alur kehidupan yang Allah skenariokan untuk kita begitu menakjubkan. Kadang ia menaruh kita pada latar taman dihiasi bunga-bunga nan berseri. Di lain waktu ia melempar kita pada tempat-tempat penuh kerikil berduri yang tentu saja menyakitkan. Lalu melempar kita ke tempat lain lagi yang membuat kita pada akhirnya bertanya-tanya apa gerangan yang Dia rahasiakan untuk kita. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita menuju pada persepsi-persepsi yang keliru tentang takdirNya tentu ditambah dengan keadaan yang membuat kita tak nyaman. Namun, sejauh kita melangkah, Dia tentu sangat baik. Memberikan jawaban lewat berbagai caraNya. Hanya kadang hati kita yang terlalu berdebu tak menyadari bahwa sebenanya Dia tengah mengusap lembut hati kita agar sedikit demi sedikit debu itu hilang, digaantikan dengan cahayaNya. Bagi saya,

Sajak Palsu (Agus R, Sarjono)

Selamat pagi Pak, selamat pagi Bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.   Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.   Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.   Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.   Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang meng...