Langsung ke konten utama

Postingan

Selarik Nasihat

"Semoga Allah memaafkan saya ya," saya tertegun membacanya. Membaca sebuah pesan WhatsApp dari seseorang yang saya ingin mewawancarainya sebab siapapun tau tentang sepak terjangnya mendirikan sebuah komunitas yang bergerak dalam manfaatnya untuk anak-anak disabilitas.Saya jadi teringat perkataan Ash Shidiq Abu Bakar ketika ada yang memujinya, "Ya Allah, jadikan aku lebih baik dari perkataan mereka dan ampuni aku lantaran ketidaktahuan mereka tentang diriku," Lama sekali saya terdiam dan berulangkali membacanya. Betapa mengesankan sikap rendah hati. Orang-orang seperti ini yang menyadari betul bahwa sehebat apapun ia menurut pandangan orang lain, ia tetaplah seorang hamba yang Allah lebih tahu tentang dirinya, termasuk tentang aib-aibnya. Yang Allah dengan sangat baik menutup semua keburukannya. Maka sebuah kalimat indah syukur pernah mampir dalam ingatanku, "barangkali ketika orang menganggap diri kita baik itu bukan berarti kita memang baik, tapi karena All...

Masihkah Selantang Dulu?

Allah tujuan kami Rosulullah tauladan kami Al Qur’an pedoman hidup kami Jihad adalah jalan juang kami Syahid di jalan ALLAH adalah cita-cita kami tertinggi. Semoga. Sampai akhir nanti kita. Bukan hanya tentang kerinduan betapa percaya dirinya semasa kecil dahulu menyanyikan senandung tersebut di depan siapa saja.   Bukan hanya yang sefikrah. Betapa percaya dirinya bocah polos ini dulu ketika ada yang menanyakan cita-citanya, dengan mantap mengatakan: Syahid di jalan ALLAH. “Syahid itu apa?”, “Syahid itu kita meninggal karena sudah singguh-sungguh memperjuangkan agama Islam.” Betapa dulu di setiap tukeran biodata dengan teman semasa kecil, selalu tak lupa mencantumkan motto hidup: Isy Kariman au mut Syahidan. Betapa tak pernah alpa untuk melantunkan doa selepas sholat “Ya Allah, karuniakan kami mati syahid” hanya karena mendengar barangsiapa menginginkan kesyahidan dengan sungguh-sungguh, maka Allah kabulkan meski mati di tempat tidur. Hanya karena bacaan-bacaan ...

Pilar-Pilar Peradaban Madinah

(Majelis Jejak Nabi yang diadakan di Masjid Baitul Ihsan kali ini bagian kedua, bersama Ustad Salim A Fillah. Berikut reviewnya. Semoga berlimpah manfaat. ) Madinah. Kota yang diberkahi. “Ya Allah...” demikian Rosulullah berdoa, “jadikan kami cinta pada Madinah ini sebagaimana cinta kami kepada Mekkah atau lebih banyak lagi. Ya Allah, tuangkanlah keberkahan bagi kami di Madinah ini, atas ahlinya, airnya, udaranya, dan buah-buahannya,” Sesampai di Madinah, tugas-tugas peradaban menanti Rosulullah dan para sahabatnya yang memang sudah ditunggu kedatangannya oleh penduduk Madinah. Dan peradaban itu disusun dari mulai pilar-pilarnya. Mari kita dengar penuturan Abdullah Bin Salam tentang pilar-pilar yang dibangun oleh Rosulullah ketika pertama kali sampai di Madinah. “Ketika tiba di Madinah, aku mendatangi beliau.   Ketika ku lihat secara jelas wajah beliau, maka aku bisa melihat bahwa wajah itu bukanlah wajah pendusta. Yang pertama kali kudengar saat itu adalah sabda bel...

Menapaki Jejak Sang Khalifah

“Bahan ini terlalu halus…” Deg. Aku menoleh mencari sumber suara. Entah kenapa seperti pernah menemui kalimat tersebut. Seorang anak kecil dengan wajah malu berlindung di samping ibunya dengan tingkah polah manjanya. Sesekali jari mungilnya memegang kain bahan di depannya. Jilbab bergonya yang menjulur panjang membuatku selirik melihat jilbab yang ku pakai. Sedikit malu. Pasalnya jilbabku tentu saja tak sepanjang jilbab bergonya. *** “Kain ini terlalu halus untukku” aku membayangkan, diriku berada disana. Melihat satu sosok yang tertawa mendengar kalimat orang di sampingnya yang tak lain adalah sahabatnya. “Mengapa engkau tertawa?” Barangkali, aku yang sudah tahu kelanjutan cerita ini akan ikut tersenyum. Tentu saja diantara haru dan mata yang sudah basah. “Aku hanya heran. Dulu waktu kau masih sebagai seorang pemuda di Madinah, kain seharga 30.000 ribu dirham masih sangat kasar menurutmu. Sekarang kini engkau telah menjadi khalifah tapi malah mengatakan kain seharga 3 dirham ini ...

Memori Emas

Suatu saat nanti, aku tau kalian akan menjelma sosok yang tidak lagi bersamaku. Sekedar mendengar bacaan qur'an mu yang semakin lancar, hafalan qur'an mu atau seperti yang kamu katakan "kak, hari ini saya muroja'ah saja" Ekspresi mu yang sesekali tersenyum malu-malu setiap ku tanya "sudah solat ashar? Tadi sholat zuhur? Subuh?" Ah kakak kenapa setiap hari menanyakan itu. Dulu, saat awal-awal. Tapi semakin kesini, justru kalian yang mengingatkan jika aku sengaja atau tanpa se ngaja tidak bertanya "ka, engga ditanya udah sholat atau belum nih?" Boleh aku mengartikan itu sebuah kerinduan? Jika satu saat nanti dan aku tau kita tak bersama lagi, mungkin aku akan merindukan saat petang lalu kita menatap senja lama-lama di atas danau sambil melantunkan zikir pagi dan petang yang belum separuhnya kalian hafal. Juga tentang tanya-tanya ingin tahu kalian, "ka, di akhirat nanti apa kita bisa ngaji bareng-bareng lagi?Ngaji bareng di pin...

Perjalanan Kita

Perjalanan kali ini bersama Fariha, Hamjah, Boim, Ka Ucup dan Miqdad dengan tujuan rapat gabungan . Perjalanan yang tidak melelahkan(bagiku sih) karena jarak tempuh yang hanya   kurang lebih 2 jam ditempuh dan Alhamdulillah makanan sehari-hari di Indonesia a.k.a macet tidak kami temui. Ini kali ketiga aku ke Serang dengan tujuan yang berbeda-beda pula. Pertama kesini karena ada LDKS, kedua kumpul FSLDK dan kali ini kumpul Garuda Keadilan. Kumpul kali ini pun karena Fariha minta temenin. Tapi yang pasti aku bersyukur karena dari mereka lah aku belajar tentang militansi seorang aktivis dakwah. Bahwa memang dakwah meminta segalanya dari kita dan bersyukurlah karena kita ada di bagian jalan ini. Jalan yang kita tempuh malam ini tentu tak seberapa dengan jalan-jalan yang dilalui oleh para pendahulu kita. Mungkin jika dibandingkan dengan lautan beserta ombaknya, kita hanya setitis saja. Tapi tidak mengapa, semoga langkah yang setitis ini semata karena ridhoNya dan demi izzah is...