Langsung ke konten utama

Postingan

Menapaki Jejak Sang Khalifah

“Bahan ini terlalu halus…” Deg. Aku menoleh mencari sumber suara. Entah kenapa seperti pernah menemui kalimat tersebut. Seorang anak kecil dengan wajah malu berlindung di samping ibunya dengan tingkah polah manjanya. Sesekali jari mungilnya memegang kain bahan di depannya. Jilbab bergonya yang menjulur panjang membuatku selirik melihat jilbab yang ku pakai. Sedikit malu. Pasalnya jilbabku tentu saja tak sepanjang jilbab bergonya. *** “Kain ini terlalu halus untukku” aku membayangkan, diriku berada disana. Melihat satu sosok yang tertawa mendengar kalimat orang di sampingnya yang tak lain adalah sahabatnya. “Mengapa engkau tertawa?” Barangkali, aku yang sudah tahu kelanjutan cerita ini akan ikut tersenyum. Tentu saja diantara haru dan mata yang sudah basah. “Aku hanya heran. Dulu waktu kau masih sebagai seorang pemuda di Madinah, kain seharga 30.000 ribu dirham masih sangat kasar menurutmu. Sekarang kini engkau telah menjadi khalifah tapi malah mengatakan kain seharga 3 dirham ini ...

Memori Emas

Suatu saat nanti, aku tau kalian akan menjelma sosok yang tidak lagi bersamaku. Sekedar mendengar bacaan qur'an mu yang semakin lancar, hafalan qur'an mu atau seperti yang kamu katakan "kak, hari ini saya muroja'ah saja" Ekspresi mu yang sesekali tersenyum malu-malu setiap ku tanya "sudah solat ashar? Tadi sholat zuhur? Subuh?" Ah kakak kenapa setiap hari menanyakan itu. Dulu, saat awal-awal. Tapi semakin kesini, justru kalian yang mengingatkan jika aku sengaja atau tanpa se ngaja tidak bertanya "ka, engga ditanya udah sholat atau belum nih?" Boleh aku mengartikan itu sebuah kerinduan? Jika satu saat nanti dan aku tau kita tak bersama lagi, mungkin aku akan merindukan saat petang lalu kita menatap senja lama-lama di atas danau sambil melantunkan zikir pagi dan petang yang belum separuhnya kalian hafal. Juga tentang tanya-tanya ingin tahu kalian, "ka, di akhirat nanti apa kita bisa ngaji bareng-bareng lagi?Ngaji bareng di pin...

Perjalanan Kita

Perjalanan kali ini bersama Fariha, Hamjah, Boim, Ka Ucup dan Miqdad dengan tujuan rapat gabungan . Perjalanan yang tidak melelahkan(bagiku sih) karena jarak tempuh yang hanya   kurang lebih 2 jam ditempuh dan Alhamdulillah makanan sehari-hari di Indonesia a.k.a macet tidak kami temui. Ini kali ketiga aku ke Serang dengan tujuan yang berbeda-beda pula. Pertama kesini karena ada LDKS, kedua kumpul FSLDK dan kali ini kumpul Garuda Keadilan. Kumpul kali ini pun karena Fariha minta temenin. Tapi yang pasti aku bersyukur karena dari mereka lah aku belajar tentang militansi seorang aktivis dakwah. Bahwa memang dakwah meminta segalanya dari kita dan bersyukurlah karena kita ada di bagian jalan ini. Jalan yang kita tempuh malam ini tentu tak seberapa dengan jalan-jalan yang dilalui oleh para pendahulu kita. Mungkin jika dibandingkan dengan lautan beserta ombaknya, kita hanya setitis saja. Tapi tidak mengapa, semoga langkah yang setitis ini semata karena ridhoNya dan demi izzah is...

Alur Hidup Kita

Aku sering menginsyafi betapa alur kehidupan yang Allah skenariokan untuk kita begitu menakjubkan. Kadang ia menaruh kita pada latar taman dihiasi bunga-bunga nan berseri. Di lain waktu ia melempar kita pada tempat-tempat penuh kerikil berduri yang tentu saja menyakitkan. Lalu melempar kita ke tempat lain lagi yang membuat kita pada akhirnya bertanya-tanya apa gerangan yang Dia rahasiakan untuk kita. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita menuju pada persepsi-persepsi yang keliru tentang takdirNya tentu ditambah dengan keadaan yang membuat kita tak nyaman. Namun, sejauh kita melangkah, Dia tentu sangat baik. Memberikan jawaban lewat berbagai caraNya. Hanya kadang hati kita yang terlalu berdebu tak menyadari bahwa sebenanya Dia tengah mengusap lembut hati kita agar sedikit demi sedikit debu itu hilang, digaantikan dengan cahayaNya. Bagi saya,

Ibu, Tangan Kanan Peradaban Dunia

Ada satu quote menarik tentang bagaimana seorang ibu yang terdidik, mampu lahirkan generasi yang juga terdidik. “Mendidik seorang wanita berarti mendidik sebuah generasi”. Kau pernah merasakan setiap hari disibukkan dengan agenda yang sangat banyak, jadwal padat dengan satu peranmu. Dokter, misalnya. Atau pegawai bank. Mungkin juga koki di sebuah restoran.   Tapi pernah kau bayangkan? Dalam satu hari dan mungkin di waktu yang bersamaan, kau (harus) memiliki barbagai macam peran. Karena jika peran itu tidak kau pegang, maka banyak jiwa yang menjadi korban. Entah korban kelaparan, korban kebodohan, atau yang lebih mengerikan: kematian. Peran yang kumaksud adalah IBU. Ibuku, dan tentu saja mungkin ibumu. Ibu, yang jam kerjanya tak mengenal waktu. Ibu, yang dalam sehari atau bahkan dalam satu waktu memiliki peran ganda. Koki, Akuntan, Baby Sitter, Guru, Dokter, Perawat dan lainnya. Ia lah koki terhandal, meski mungkin ia tak jago masak, tapi bumbunya adalah cintanya, yang t...

Beyond The Blackboard

Film ini diangkat dari kisah nyata. Sebuah film yang   menceritakan tentang seorang guru muda bernama Miss Stacey yang ‘mendapat kehormatan’ untuk mengajar di sebuah tempat penampungan. Hari pertama menjadi guru di tempat itu, awalnya Miss Stacey mengira dia akan ditempatkan di sebuah sekolah pada umumnya, tapi dugaannya salah, tempat itu lebih mirip sebagai tempat penampungan, bukan sekolah. Tempat ia mengajar berada tepat bersebelahan dengan kereta. Dengan Suasana yang kacau; para orang tua merokok, beramai-ramai menonton TV bersama anak-anak, bahkan ketika ditunjukkan ke sebuah ruangan yang katanya ruang kelas, Miss Stacey masih ragu bahwa itu adalah ruang tempatnya mengajar murid-muridnya. Kotor, gelap, tidak ada textbook, bahkan ketika ia sedang mengajar di hari pertama, saat kereta lewat, bukan hanya seluruh benda di ruangan itu bergetar, tapi juga dari lubang muncul seekor tikus yang membuat seisi kelas gaduh. Kelas yang jauh dari rasa aman dengan fasilitas yang sang...