Langsung ke konten utama

Postingan

Alur Hidup Kita

Aku sering menginsyafi betapa alur kehidupan yang Allah skenariokan untuk kita begitu menakjubkan. Kadang ia menaruh kita pada latar taman dihiasi bunga-bunga nan berseri. Di lain waktu ia melempar kita pada tempat-tempat penuh kerikil berduri yang tentu saja menyakitkan. Lalu melempar kita ke tempat lain lagi yang membuat kita pada akhirnya bertanya-tanya apa gerangan yang Dia rahasiakan untuk kita. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita menuju pada persepsi-persepsi yang keliru tentang takdirNya tentu ditambah dengan keadaan yang membuat kita tak nyaman. Namun, sejauh kita melangkah, Dia tentu sangat baik. Memberikan jawaban lewat berbagai caraNya. Hanya kadang hati kita yang terlalu berdebu tak menyadari bahwa sebenanya Dia tengah mengusap lembut hati kita agar sedikit demi sedikit debu itu hilang, digaantikan dengan cahayaNya. Bagi saya,

Ibu, Tangan Kanan Peradaban Dunia

Ada satu quote menarik tentang bagaimana seorang ibu yang terdidik, mampu lahirkan generasi yang juga terdidik. “Mendidik seorang wanita berarti mendidik sebuah generasi”. Kau pernah merasakan setiap hari disibukkan dengan agenda yang sangat banyak, jadwal padat dengan satu peranmu. Dokter, misalnya. Atau pegawai bank. Mungkin juga koki di sebuah restoran.   Tapi pernah kau bayangkan? Dalam satu hari dan mungkin di waktu yang bersamaan, kau (harus) memiliki barbagai macam peran. Karena jika peran itu tidak kau pegang, maka banyak jiwa yang menjadi korban. Entah korban kelaparan, korban kebodohan, atau yang lebih mengerikan: kematian. Peran yang kumaksud adalah IBU. Ibuku, dan tentu saja mungkin ibumu. Ibu, yang jam kerjanya tak mengenal waktu. Ibu, yang dalam sehari atau bahkan dalam satu waktu memiliki peran ganda. Koki, Akuntan, Baby Sitter, Guru, Dokter, Perawat dan lainnya. Ia lah koki terhandal, meski mungkin ia tak jago masak, tapi bumbunya adalah cintanya, yang t...

Beyond The Blackboard

Film ini diangkat dari kisah nyata. Sebuah film yang   menceritakan tentang seorang guru muda bernama Miss Stacey yang ‘mendapat kehormatan’ untuk mengajar di sebuah tempat penampungan. Hari pertama menjadi guru di tempat itu, awalnya Miss Stacey mengira dia akan ditempatkan di sebuah sekolah pada umumnya, tapi dugaannya salah, tempat itu lebih mirip sebagai tempat penampungan, bukan sekolah. Tempat ia mengajar berada tepat bersebelahan dengan kereta. Dengan Suasana yang kacau; para orang tua merokok, beramai-ramai menonton TV bersama anak-anak, bahkan ketika ditunjukkan ke sebuah ruangan yang katanya ruang kelas, Miss Stacey masih ragu bahwa itu adalah ruang tempatnya mengajar murid-muridnya. Kotor, gelap, tidak ada textbook, bahkan ketika ia sedang mengajar di hari pertama, saat kereta lewat, bukan hanya seluruh benda di ruangan itu bergetar, tapi juga dari lubang muncul seekor tikus yang membuat seisi kelas gaduh. Kelas yang jauh dari rasa aman dengan fasilitas yang sang...

Makna Sebuah Kehilangan

“Uang di kotak amal yang untuk baksos hilang,” begitu pesan yang saya baca di grup WhatsApp.   Pesan berantai berisi istirja mengalir dari setiap anggota grup, juga tentang beberapa detik berisi pesan yang isinya tak beda jauh dari menyalahkan satu dengan yang lainnya. “Kan sudah saya bilang...” “Lho, waktu itu kan saya sudah pesan...” Hanya sebentar pertikaian itu, tapi mungkin ada hati yang terlukai. “Ya sudah kita ambil ibroh nya saja...” Kemudian hasil dari ibrah itu berbuah strategi. Walau kami percaya segala sesuatunya memang sudah kehendakNya, toh kehilangan inipun tak lepas dari kelalaian kami. “Ya Rosulullah, unta ini aku ikat terlebih dahulu atau aku biarkan saja tak diikat dan serahkan urusan ini kepada Allah?” sebuah kisah di abad lalu bersama seorang   paling cinta dan sahabatnya. Terlintas dibenak saya. “engkau ikat unta ini kemudian engkau serahkan urusan ini kepadaNya.” Dari kisah ini kemudian kita tahu, Rosulullah hendak mengajarkan makna ...

Tabiat Jalan Ini

Tabiat jalan dakwah adalah jalan yang kalu lalui, di hadapanmu terhampar ribuan duri. Memutuskan berhenti, bukanlah solusi sebab disana ada cita yang sejak awal kau rangkai. Sebab disana ada ribuan orang butuh dirimu, sebab diujung jalan ini ada taburan bahagia menanti. 

Surat Cinta untuk Ibunda Para Syuhada

Ibunda, surat ini ku sampaikan padamu, atas kesyahidan anak-anakmu pagi tadi, siang tadi, sore tadi, malam tadi, atau saat kau membaca pembuka suratku ini, atau bahkan ketika kau membaca pertengahan suratku dan kabar kesyahidan anakmu datang sedang kau segera bangkit, bukan untuk memaki, bukan untuk menyerang bangsa batu itu dan menyuruhnya pergi dari tempat dimana kau melahirkan anak-anakmu, dari tempat dimana kau tanamkan pada mujahid kecilmu bahwa kemenangan itu adalah kepastian bagi orang-orang yang sungguh-sungguh percaya padaNya, dari tempat dimana kau melihat sosok yang lain dalam diri anak-anakmu saat mereka sudah mulai memegang batu. Kau bangkit untuk mengucapkan selamat, selamat atas gelar kesyahidan yang telah anakmu capai. Tentu...tentu meski dengan mata yang berkaca lalu perlahan kaca itu pecah menjadi beningan kristal yang mengalir dan kau pun berkata dengan yakin “jangan percaya pada air mata kesedihan anakku, air mata ini...adalah sungguh air mata yang sama pada s...