Langsung ke konten utama

Postingan

Tabiat Jalan Ini

Tabiat jalan dakwah adalah jalan yang kalu lalui, di hadapanmu terhampar ribuan duri. Memutuskan berhenti, bukanlah solusi sebab disana ada cita yang sejak awal kau rangkai. Sebab disana ada ribuan orang butuh dirimu, sebab diujung jalan ini ada taburan bahagia menanti. 

Surat Cinta untuk Ibunda Para Syuhada

Ibunda, surat ini ku sampaikan padamu, atas kesyahidan anak-anakmu pagi tadi, siang tadi, sore tadi, malam tadi, atau saat kau membaca pembuka suratku ini, atau bahkan ketika kau membaca pertengahan suratku dan kabar kesyahidan anakmu datang sedang kau segera bangkit, bukan untuk memaki, bukan untuk menyerang bangsa batu itu dan menyuruhnya pergi dari tempat dimana kau melahirkan anak-anakmu, dari tempat dimana kau tanamkan pada mujahid kecilmu bahwa kemenangan itu adalah kepastian bagi orang-orang yang sungguh-sungguh percaya padaNya, dari tempat dimana kau melihat sosok yang lain dalam diri anak-anakmu saat mereka sudah mulai memegang batu. Kau bangkit untuk mengucapkan selamat, selamat atas gelar kesyahidan yang telah anakmu capai. Tentu...tentu meski dengan mata yang berkaca lalu perlahan kaca itu pecah menjadi beningan kristal yang mengalir dan kau pun berkata dengan yakin “jangan percaya pada air mata kesedihan anakku, air mata ini...adalah sungguh air mata yang sama pada s...

Hikmah

Bagaimanapun takdir ibarat anak panah bagi seorang pemanah, ia akan diarahkan pada sasaran, namun tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada angin yang akan membawa anak panah itu jauh dari sasaran, tapi selalu yakinlah bahwa angin itu akan membawa anak panah yang kita busurkan itu ke arah yang lebih tepat. “Tapi aku tidak mau di UIN bu, aku mau setidaknya UI.” Hari-hari menjelang pendaftaran masuk perguruan tinggi, ketegangan antara aku, bapak,   ibu dan kakak-kakak masih berlanjut. Ibu. Ibu yang meski dengan lembutnya, menginginkan anaknya ini agar kuliah di UIN saja. Jarak. Karena jarak yang dekat. Hari-hari berlalu, dengan berbagai pertimbangan dan pengertian, aku mengaminkan mau ibu. Hari-hari selanjutnya adalah pendaftaran, sengaja kupilih pendaftaran jalur SBM PTAIN, dengan harapan tidak diterima sebab aku tau kebanyakan yang daftar di jalur ini kebanyakan yang latar belakang mereka pondok atau madrasah. Saat tes, persiapanku hanya belajar-belajar soal-soal ...

Sebongkah Tekad Baja Pemuda Penggagas Peradaban #1

Kalian percaya dengan segala hal yang bernama “kebetulan”? Kalau saya, boleh saya tidak mempecayainya? Sebab menurut saya segala kejadian dalam hidup ini, besar-kecilnya, menarik-tidaknya, pahit-manisnya, terkenang-tidaknya, semua sudah rencana sang pemilik seindah rencana. Dia, yang tanpa-Nya, siapalah kita. Kau bisa mengatakan orang-orang yang setiap hari berlalu-lalang, selintas lewat di hadapanmu, yang hanya menjadi ‘pemeran figuran’ ketika kau berjalan terburu-buru sambil melihat jam di pergelangan tanganmu, yang jangan pun sempat menyapa, tersenyum pun enggan, yang sama-sama duduk berhadapan denganmu dalam sebuah angkutan umum, atau antrian loket di stasiun kereta atau ketika kalian sama-sama menerobos hujan dengan jaket ataupun tas kuliah kalian yang kalian gunakan untuk menutup kepala. Kalian saling tak kenal, hanya berlari di tempat dan momen yang sama, usaipun kalian pergi masing-masing tuju tempat yang berbeda. Kalian percaya itu sebuah kebetulan?

Selaksa Cerita di Seleksi Nasional Youth Leadership Forum

Setiap perjalanan memberikan hikmah, setiap pertemuan menuai makna. Ya, asalkan semua itu dalam rangka ketaatan padaNya. Allah sungguh baik memberikan saya kesempatan untuk kembali belajar dari orang-orang yang bukan saya. Menakdirkan bertemu kawan-kawan dari berbagai penjuru Indonesia di sebuah agenda yang tentu saja bukan sebuah kebetulan. Seleksi Nasional Youth Leadership Forum Gerakan Mari Berbagi. Dua hari dengan seribu cerita dan pengalaman. Dengan izin Allah saya dipertemukan dengan pemuda-pemudi hebat yang memiliki impian, tujuan, kesadaran yang tinggi terhadap potensi dirinya. Pemuda-pemudi yang tahu betul bahwa mereka dicipta dengan sebaik-baik keadaan. Maka karya dan kerja merekapun melangit. Pemuda-pemudi itu datang dari berbagi pulau. Jawa, Sumatera, Sulawesi, Papua dan sebagainya dengan berbagai latar belakang budaya, agama, dialek yang berbeda. Membuat bersyukur perbedaan itu menyatukan kita dalam satu rangkaian aksara yang indah: INDONESIA. Pun latar belakang ...

Menikmati Lezatnya Lapis-Lapis Keberkahan #1

Memburu berkah matlah berat, tapi justru di dalamnya ada banyak rasa nikmat. Selamat Datang di Lapis-Lapis Keberkahan. Kita akan mengupas beriris-iris asas makna, hingga mampu mengemudi hati di jalan lurus, agar mesra dengan-Nya dalam ringkasnya hidup. Selamat datang di Lapis-Lapis Keberkahan. Kita akan menata bertumpuk-tumpuk bahan karya hingga seayat ilmu, memadu setitis rizki, setitis rizqi membekali segerak amal dan segerak amal memperindah seisi bumi Selamat datang juga di Blog saya, Pembaca yang Budiman ^^ Agar buku yang saya baca berlimpah manfaat dan berkah, terbesitlah diri untuk menulis resume dari tiap lapisan “Lapis-Lapis Keberkahan” karya Gurunda Salim A Fillah. Selamat menikmati!

Mawar Berduri

Ada sebuah kisah menarik dari audio yang saya yakin bukan kebetulah Allah mengirimnya untuk saya dari seorang teman. Cerita itu dimulai oleh suara yang saya tebak adalah seorang motivator. Ia memulainya dengan pengalamannya. Saat itu tahun 1998, beliau mengisi sebuah acara training untuk SMA di kota Bogor. Peserta diberikan satu lembar kertas A4. Beliau meminta mereka untuk menggambar apapun tentang mereka. Cita-cita, keluarga, atau apapun. Semuanya menggambar, namun karena pesertanya anak-anak SMA tak ada yang serius. Sampai ada satu perempuan bernama Ummu yang menggambar berbeda dari yang lainnya. Ia gambar mawar berduri dengan background gelap. “Saya gambar Mawar Berduri” begitu jawab Ummu saat beliau menanyakan. “Maksudnya apa?” Dan inilah jawaban Ummu yang membuat saya kagum .