Langsung ke konten utama

Postingan

Hatimu, Ciptaan Istimewa

Pada akhirnya aku tau, segala kesedihan dan setiap resah yang pernah membuncah... semua hanya akan menjadi masa lalu.  Jika begitu...kenapa tak menjalani sesuatu dengan apa adanya? Memang kesedihan yang amat mendalam begitu terasa saat pertama kali guncangan mengahmpiri, pun kita tak bisa melupakan begitu saja semua yang telah terjadi. Ada kepingan-kepingan yang rasanya sulit sekali tuk ditata kembali. Menata perasaan seperti awal adanya. Ah, tapi mana bisa, sedang pasti ada kepingan-kepingan yang rusak yang belum tentu bisa diperbaiki. Aku tau itu. Memperbaiki perasaan yang hancur? Dalam sekejap? Bagaimana bisa? Tapi...ku rasa hati kita adalah ciptaan Istimewa Tuhan Pemilik Segala. Disana ada ruang dimana penerimaan akan segala yang terjadi. Penerimaan...untuk kemudian kita memahami bahwa kesedihan adalah niscaya, tapi penerimaan terkadang atau bahkan memang harus kita usahakan. Selanjutnya, disitu selalu ada nurani, yang kan membantumu tuntun hidupmu selanjutnya.

Abang, Pulanglah...

Abang, dimana? kapan kembali? Akankah waktu berbaik hati pertemukan kita? Atau selamanya ia kejam, menghendaki perpisahan yang tak ku inginkan. Abang, dimana? Kapan kembali? Akankah waktu berbaik hati menghapus air mata dari yang mencinta? air mata ibu seringkali luruh mengingatmu juga denganku, juga dengan yang lainnya. tak ada yang bisa menghapus kecuali kedatanganmu. Abang dimana? Kapan kembali? Akankah waktu berbaik hati Agar yang tercinta, ibu tak lagi mengatakan kata yang mampu menghentikan suapan makanan ketika kami makan. “ abangmu, dimana? Makan apa?” Setetes air mata jatuh dari mata redupnya yang selalu memancarkan cinta. “ abangmu, pernah bilang; orek tempe buatan ibu selalu enak” Setetes lagi... “ abangmu, katanya selalu rindu dengan kolak singkong buatan ibu, agar-agar buatan ibu yang berbeda. Jika rindu, bukankah seharusnya dia segera pulang?” Tidak setetes dua tetes lagi air mata jatuh, tapi deras...deras...isak-isak tangis antara kam...

Mahasiswa dan Sampah

Bukan, sampah yang saya maksud disini bukan sampah dalam makna konotasi, tapi benar-benar sampah dalam makna sebenarnya. Ya, sampah yang biasa kita temui dimana-mana. Dimana-mana loh ya, bukan Cuma di tempat sampah, karena toh pada kenyataannya saya jarang   melihat sampah yang banyak di tempat sampah tapi lebih sering melihat sampah-sampah itu berserakan di jalan, di atas rumput taman kampus, di loby fakultas, bahkan di dalam kelas tempat mahasiswa belajar! Well, seolah-olah saya tukang sampah banget sampe tau keadaan tempat sampah yang ‘sepi’ dari sampah. No, no, no, saya bukan tukang sampah, saya hanya suka mengembara dari tempat sampah yang satu ke tempat sampah yang lain *samaaja*

Kepada mereka yang 'dikutuk" untuk Menuliskan Kebenaran

Kepada mereka yang 'dikutuk' untuk menuliskan kebenaran. Kebenaran tetaplah kebenaran yang getarannya bisa dirasa setiap manusia yang masih miliki nurani. Lantas, bagaimana jika kita sendiri takut menuliskannya? mengungkapkan sebuah fakta? tapi, bukankah apapun dan bagaimanapun caranya, kebenaran akan menunjukkan dirinya dari seluruh penjuru mata angin, dari seluruh pelosok wilayah, dari jalan-jalan becek, kampung-kampung kumal, dari balik jeruji besi, atau dari istana megah para penguasa. -Terinspirasi dari "Jalan Sorang Penulis" Seno Gumira Ajidarma

Muhasabah Petang Lalu

”Barangsiapa yang belum pernah menemui kesulitan dalam proses pembelajaran ketika itu akan datang kepadanya suatu yang cepat berupa kesulitan dan kebodohan sepanjang hidupnya.” Cambuk bagi kita perkataan ulama Mesir diatas. Sebuah cambuk yang seharusnya menjadi renungan untuk para penuntut ilmu.

Ini antara Kau dan Aku

           “Jangan pernah lupain aku ya, De” katamu meminta.           Aku terperangah. Adakah yang salah? Ah ya, mungkin sepekan ini aku terlalu sibuk dengan tugas-tugas yang menumpuk. Tentu, karena aku yang menumpuknya.             Beberapa waktu lalu kau mengirimku pesan singkat meminta sedikit tausiyah atau sekedar motivasi.. Aku tak tau suasana apa yang sedang hinggap di hatimu. Tapi jika begitu, pastilah ada sesuatu yang membuatmu resah tak nyaman. Bukankah dulu itu yang sering kulakukan. Menyapamu meski hanya lewat pesan singkat berisi kata-kata sederhana. Tanpa kau minta. Beberapa pekan ini? Bukan karena aku melupakanmu. Ah, siapa yang mampu melupakan seorang teman, sahabat, yang telah ku anggap sebagai bagian dari hidupku. Jikapun lama tak singgah di kotamu, percayalah...jika waktu mengizinkan, tentu...tentu tempat pertama yang ku kunjungi adalah rumah tempatmu tinggal.