Langsung ke konten utama

Yang Akan Kamu Pelajari dengan Kuliah di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

"Yailah, gampang."
"Emang kaga ada jurusan lain?"
"Apa yang bisa kamu harapkan dengan masuk di jurusan itu?"

Dan berbagai komentar menggelikan yang saya hanya bisa senyum-senyum byebye ketika mendengarnya saat saya menyebutkan bahwa saya kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Sebenarnya tidak ada jurusan yang lebih mudah atau lebih sulit. Semua sudah diatur sesuai porsinya. Jadi seharusnya kita tidak boleh lagi meremehkan memandang sebelah mata ilmu-ilmu di luar yang kita pelajari.
Jadi, apa yang akan kamu pelajari dengan masuk di jurusan tak biasa ini?
Pertama, karena kamu berada di jurusan pendidikan, maka kamu akan belajar tentang materi-materi pendidikan. Seperti, Landasan Pendidikan, Belajar dan Pembelajaran, Strategi Pembelajaran, Psikologi Pendidikan, Perencanaan Pembelajaran, Profesi Keguruan, Evaluasi Pendidikan, Mikroteaching (praktik mengajar di kelas), dan lain-lain.
Kedua, kamu akan belajar berbagai keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan membaca, keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, dan keterampilan menulis.
Ketiga, karena kamu berada di jurusan bahasa maka kamu pun belajar tentang kebahasaan, seperti, Linguistik Umum, Fonologi, Morfologi, Psikolingustik, Sosiolinguistik, Pragmatik, Semantik, Wacana, Analisis kesalahan berbahasa, dan sebagainya dan sebagainya. Di mata kuliah ini, bersiaplah untuk berpusing-pusing.
Keempat, pembelajaran sastra. Yes, Sastra! Di pembelajaran ini kamu akan belajar banyak hal dari mulai sejarah Indonesia, politik, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya dan sebagainya, dengan menganalisis karya sastra. Karena kamu tau? Sastra adalah representasi kehidupan di sekelilingmu. Di sini, bersiaplah untuk mengembara dari tahun ke tahun, dari negara ke negara lain, dengan permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalamnya. Kamu akan belajar mata kuliah Teori Sastra, Sejarah Sastra, Sastra Bandingan, Kajian Puisi, Kajian Drama, dan sebagainya dan sebagainya.
Kalau di kampus saya, di semester 7, kami belajar Filologi (yang membuatmu akan semakin cinta dengan Indonesia), Penyuntingan Naskah, Pewara, dan BIPA(Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).
Percayalah kuliah di jurusan ini sangat seru.
Prospek kerja?
Jangan ditanya, kamu bisa jadi Guru terutama, bisa jadi editor, Filolog, Penyiar, Penulis, Pembawa Acara, Pendongeng, Pengajar BIPA, Linguis, Wartawan, dan sebagainya dan sebagainya.
Masih ragu jadi mahasiswa pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Itu Aku Menemukannya

Ya Allah, hari itu aku menemukannya, sosok yang kata-katanya membuatku terbuai, jiwa yang santunnya membuatku tersentuh, dan pesona yang hatinya membuatku enggan untuk tidak memercayainya. Syukurku selalu pada-Mu ya Allah, sebab Kau telah memberiku kesempatan dan kepercayaan atas titipan cinta-Mu yang kian aliri diriku untuk terus dan terus tanpa henti dan tak lelah menanti hanya dengan membawa satu makna bahwa aku adalah seorang yang sangat memedulikannya. Kuharap Engkau selalu membimbingku ya Allah, agar suatu saat ketika semua ini harus kutinggalkan, sebentuk kata akan mengiriku, menemaniku, dan meyakinkan jiwaku bahwa aku telah membuatnya berarti. Aku tahu bahwa pada suatu saat nanti aku harus pergi. Juga kutahu bahwa aku harus meninggalkannya, namun Ya Rabb wahai Zat yang Mahakuasa…. Tidakkah Engkau melihat…? Tidakkah Engkau mendengar…? Bahwa tak pernah kulewatkan satu saat pun dalam segala shalat dan tahajudku untuk tidak meminta yang terbaik untuknya kepada-Mu?...

Surat Untuk Quthz #2

Qutz, Aku menyusuri kembali jalan-jalan di mana kita pernah menyejajari langkah kita sambil kau tak henti merapal kisah dan peristiwa. Di salah satu toko buku kau pernah memaksaku membeli Api Sejarah. Kupikir, untuk apa lagi aku membelinya jika setiap halaman dalam buku tersebut bisa kudengar darimu secara detil. Tapi kau tau, diam-diam aku membelinya. Benar, ada perasaan yang tidak kau temukan dibandingkan berkomunikasi langsung dengan sang penulis melalui tulisannya. Kupikir, itu hanya karena style belajarku dan belajarmu saja yg cukup sama. Orang lain bisa jadi tak sama dengan kita.  Hampir setahun. Toko buku di persimpangan sudah ada beberapa yg tutup.  Banyak yg hilang dari kita, Quthz. Bukan hanya tentang menghabiskan waktu di HB Jassin, Masjid Amir Hamzah, atau menghentikan angkutan umum dari Atrium, menyusuri Kramat Raya menuju perpustakaan Dewan Dakwah.  Yang hilang dari kita, menyegerakan amal atas ilmu yang sudah diketahui. Rasa-rasanya, aku rindu petang mu...

Memori Emas

Suatu saat nanti, aku tau kalian akan menjelma sosok yang tidak lagi bersamaku. Sekedar mendengar bacaan qur'an mu yang semakin lancar, hafalan qur'an mu atau seperti yang kamu katakan "kak, hari ini saya muroja'ah saja" Ekspresi mu yang sesekali tersenyum malu-malu setiap ku tanya "sudah solat ashar? Tadi sholat zuhur? Subuh?" Ah kakak kenapa setiap hari menanyakan itu. Dulu, saat awal-awal. Tapi semakin kesini, justru kalian yang mengingatkan jika aku sengaja atau tanpa se ngaja tidak bertanya "ka, engga ditanya udah sholat atau belum nih?" Boleh aku mengartikan itu sebuah kerinduan? Jika satu saat nanti dan aku tau kita tak bersama lagi, mungkin aku akan merindukan saat petang lalu kita menatap senja lama-lama di atas danau sambil melantunkan zikir pagi dan petang yang belum separuhnya kalian hafal. Juga tentang tanya-tanya ingin tahu kalian, "ka, di akhirat nanti apa kita bisa ngaji bareng-bareng lagi?Ngaji bareng di pin...